Jumat, 08 Januari 2010

PEDOMAN DIAGNOSIS

HERPES SIMPLEX ENCEPHALITIS
Erny, Darto Saharso

Kelompok Studi Neuro developmental
Lab. Ilmu Kesehatan Anak FK. UHT RSAL Dr. Romelan
Lab Ilmu Kesehatan Anak FK. Unair RSUD Dr. Soetomo



Abstrak :

HerpesmSimpleksmEncephalitis merupakan penyakit infeksi yang menyerang swusunan saraf pusat terutama bagian medial lobus temporalis dan bagian inferior lobus frontalis yang disebabkan oleh HSV – 1 & HSV-2. Gejala klinik terutama pada neonatus tidak jelas. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan biopsy otak.
Prognosis penderita ditentukan usia dan status neurology saat diagnosis ditegakkan.

Kata kunci : Herpes simpleks encephalitis.

Abstract :

Herpes Simplex Encephalitis is the infectious disease that involving the medial part temporal lobe and inferior frontal lobe caused by HSV-1 and HSV-2 Clinical picture, especially in the neonate not specific. To established the diagnosis based on brain biopsy. The outcome depend on age the neurologic status at the diagnosis was esrablished.

Keyword ; herpes simplex Encephalitis

Batasan : Inflamasi parenkim otak yang disebabkan infeksi virus Herpes tipe I dan tipe 2 (HSV – 1 & HSV-2)

Patofisiologi dan etiologi :

Belum jelas, ada kemungkinan :
- Infeksi primer akibat transmisi virus secara langsung melalui jalur neuronal dari perifer ke otak melalui saraf Trigeminus atau Offactorius. Faktor precipitasi adalah penurunan sistim imun host.
- Reaktivitas infeksi herpes virus laten dalam otak.
- Pada neonatus penyebab terbanyak adalah HSV-2 yang merupakan infeksi daapatan dari secret genital yang terinfeksi pada saat persalinan.

Diagnosis :
- Gejala klinis : bersifat akut/subakut. Demam, nyeri kepala, gejala psikiatrik, kejang, muntah, kelemahan enot fokal, hilangnya memori, gangguan statuis mental, photophobia, kelainan gerakan. Pada neonatus mulai tampak pada usia 4 – 11 hari, letargik, malas minum, iritabel, kejang.
- Tanda klinis : gangguan kesadaran, demam, disfasia, ataxia, kejang fokal > general, hemiparesis, gangguan saraf otak, hilangnya lapangan pandang dan papiledema. Pada neonatus : temperature tidak stabil, ubun-ubun besar menonjol, tanda traktur piramidalis, ikterus, renjatan, perdarahan, distress nafas, lesi kulit yang khas.

- Laboratorium :
Analisis CSS : Pada minggu pertama dapat normal, pleositosis mononuclear, peningkatan ringan protein, kadar glucose normal/menurun ringan, jumlah sel normal. Kultur CSS dapat dapat positif pada neonatus PCR : sensitive dan spesifik.
- Radiologi : MRI : pilihan utama : lesi bermakna pada lobus temporalis bagian medial dan bagian inferior lobus frontalius.
- EEG : cukup sensitive tapi tidak spesifik
- Biopsi otak : pemeriksaan definitive untuk menegakkan diagnosis

Penatalaksanaan :
- Acylovir 10 mg/kg/8 jam diberikan dengan drip selama 1 jam selama 10 hari.
- Terapi suportif lainnya (anti kejang obat penurun panas, oksigenasi, nutrisi parenteral, enteral)

Komplikasi : edema otak, perdarahan cerebral

Prognosis :
Angka kematian dengan terapi acyclovir 19%, sequelae tergantung pada usia dan status neurology pada saat diagnosis ditegakkan.

Kepustakaan :

1. Atkins JT. HSV PCR for CNS infections : pearls and pitfalls. Pediatr. Infect Dis J, 1999, 18 : 823-4
2. Domingues RB, Tsanalics AM. Pannuti CS, et al. Evaluation of the range of clinical presentations of herpes simplex encephalitis by using polymerase chain reaction assay of cerebrospinal fluid samples. Clin Infect Dis, 1997., 25 : 86 – 9
3. Dupuits O, Audibert F, Fernandez H. Herpes simpex virus encephalitis in pregnancy Obstet Gynecol, 1999, 94 : 810-2
4. Kohl S. Postnatal herpes simplex virus enfection. In : Feign RD, Cherry JD, eds. Eds. Texbook of pediatric enfectious diseases. Philadelphia WB Saunders, 1992.

0 komentar: