Free Shoutbox Technology Pioneer

Jumat, 08 Januari 2010

Asuhan Keperawatan Angiofibroma Nasofaring Belia

A. PENGERTIAN
Angiofibroma nasofaring belia adalah sebuah tumor jinak nasofaring yang cenderung menimbulkan perdarahan yang sulit dihentikan dan terjadi pada laki-laki prepubertas dan remaja.
Angiofibroma nasofaring belia merupakan neoplasma vaskuler yang terjadi hanya ada laki-laki, biasanya selama masa prepubertas dan remaja
Umumnya terdapat pada rentang usia 7 s/d 21 tahun dengan insidens terbanyak antara usia 14-18 tahun dan jarang pada usia diatas 25 tahun.
Tumor ini merupakan tumor jinak nasofaring terbanyak dan 0,05% dari seluruh tumor kepala dan leher

B. ETIOLOGI
Etiologi tumor ini masih belum jelas, berbagai jenis teori banyak diajukan. Diantaranya teori jaringan asal dan faktor ketidak-seimbangan hormonal.
Secara histopatologi tumor ini termasuk jinak tetapi secara klinis ganas karena bersifat ekspansif dan mempunyai kemampuan mendestruksi tulang. Tumor yang kaya pembuluh darah ini memperoleh aliran darah dari arteri faringealis asenden atau arteri maksilaris interna. Angiofibroma kaya dengan jaringan fibrosa yang timbul dari atap nasofaring atau bagian dalam dari fossa pterigoid. Setelah mengisi nasofaring, tumor ini meluas ke dalam sinus paranasal, rahang atas, pipi dan orbita serta dapat meluas ke intra kranial setelah mengerosi dasar tengkorak .

C. TANDA DAN GEJALA
Gejala klinik terdiri dari hidung tersumbat (80-90%); merupakan gejala yang paling sering, diikuti epistaksis (45-60%); kebanyakan unilateral dan rekuren, nyeri kepala (25%); khususnya bila sudah meluas ke sinus paranasal, pembengkakan wajah (10-18%) dan gejala lain seperti anosmia, rhinolalia, deafness, pembengkakan palatum serta deformitas pipi. Tumor ini sangat sulit untuk di palpasi, palpasi harus sangat hati-hati karena sentuhan jari pada permukaan tumor dapat menimbulkan perdarahan yang ekstensif.

D. PENEGAKAN DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang seperti x-foto polos, CT scan, angiografi atau MRI. Dijumpai tanda Holman-Miller pada pemeriksaan x-foto polos berupa lengkungan ke depan dari dinding posterior sinus maksila4. Biopsi tidak dianjurkan mengingat resiko perdarahan yang masif dan karena teknik pemeriksaan radiologi yang modern sekarang ini dapat menegakkan diagnosis dengan tingkat ketepatan yang tinggi.
Tumor ini dapat didiagnosis banding dengan polip koana, adenoid hipertrofi, dan lain-lain.

E. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan tumor ini adalah dengan pembedahan; dimana 6-24% rekuren, stereotactic radioterapi; digunakan jika ada perluasan ke intrakranial atau pada kasus-kasus yang rekuren.
Penatalaksanaan tumor ini adalah dengan pembedahan yang sering didahului oleh embolisasi intra-arterial 24-48 jam preoperatif yang berguna untuk mengurangi perdarahan selama operasi2,4,5. Material yang digunakan untuk embolisasi ini terdiri dari mikropartikel reabsorpsi seperti Gelfoam, Polyvinyl alcohol atau mikropartikel nonabsorpsi seperti Ivalon dan Terbal. Penggunaan embolisasi ini tergantung pada ahli bedah masing-masing.

F. KOMPLIKASI
Komplikasi yang timbul dapat berupa perdarahan yang berlebihan dan transformasi maligna.



G. STADIUM ANGIOFIBROMA
Untuk menentukan perluasan tumor, dibuat sistem staging. Ada 2 sistem yang paling sering digunakan yaitu Sessions dan Fisch.
Klasifikasi menurut Sessions sebagai erikut :
1. Stage IA : Tumor terbatas pada nares posterior dan/atau nasofaring
2. Stage IB : Tumor melibatkan nares posterior dan/atau nasofaring dengan perluasan ke satu sinus paranasal.
3. Stage IIA : Perluasan lateral minimal ke dalam fossa pterygomaksila.
4. Stage IIB : Mengisi seluruh fossa pterygomaksila dengan atau tanpa erosi ke tulang orbita.
5. Stage IIIA : Mengerosi dasar tengkorak; perluasan intrakranial yang minimal.
6. Stage IIIB : Perluasan ke intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke dalam sinus kavernosus.

Klasifikasi menurut Fisch :
1. Stage I : Tumor terbatas pada kavum nasi, nasofaring tanpa destruksi tulang.
2. Stage II :Tumor menginvasi fossa pterygomaksila, sinus paranasal dengan destruksi tulang.
3. Stage III :Tumor menginvasi fossa infra temporal, orbita dan/atau daerah parasellar sampai sinus kavernosus.
4. Stage IV : Tumor menginvasi sinus kavernosus, chiasma optikum dan/atau fossa pituitary.







H. PENGKAJIAN
a. Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat kanker payudara
b. Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu.
c. Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan ikan).

d. Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan lingkungan dan kebiasaan hidup. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146)

e. Tanda dan gejala :
 Aktivitas
Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.

 Sirkulasi
Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah, epistaksis/perdarahan hidung.

 Integritas ego
Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.

 Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising usus, distensi abdomen.
 Makanan/cairan
Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, kakeksia, perubahan kelembaban/turgor kulit.

 Neurosensori
Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus
 Nyeri/kenyamanan
Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan
 Pernapasan
Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok)
 Keamanan
Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama / berlebihan, demam, ruam kulit.
 Interaksi sosial
Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung
(Doenges, 2000)


H. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
Nyeri berhubungan dengan kompresi/destruksi karingan saraf
Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol
Kriteria hasil : mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi nyeri .
Intervensi :
 Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi, frekuensi, durasi
 Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung) dan aktivitas hiburan.
 Dorong penggunaan ketrampilan manajemen nyeri (teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi) musik, sentuhan terapeutik.
 Evaluasi penghilangan nyeri atau kontrol
 Kolaborasi : berikan analgesik sesuai indikasi misalnya Morfin, metadon atau campuran narkotik.

2. Gangguan sensori persepsi berubungan dengan gangguan status organ sekunder
Tujuan : mampu beradaptasi terhadap perubahan sensori pesepsi
Kriteria hasil : mengenal gangguan dan berkompensasi terhadap perubahan
Intervensi :
 Tentukan ketajaman penglihatan, apakah satu atau dua mata terlibat.
 Orientasikan pasien terhadap lingkungan
 Observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi
 Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur
 Bicara dengan gerak mulut yang jelas
 Bicara pada sisi telinga yang sehat

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual muntah sekunder
Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.
Kriteria hasil :
 Melaporkan penurunan mual dan insidens muntah
 Mengkonsumsi makanan dan cairan yang adekuat
 Menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang lembab
 Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan
Intervensi :
 Sesuaikan diet sebelum dan sesudah pemberian obat sesuai dengan kesukaan dan toleransi pasien
 Berikan dorongan higiene oral yang sering
 Berikan antiemetik, sedatif dan kortikosteroid yang diresepkan
 Pastikan hidrasi cairan yang adekuat sebelum, selama dan setelah pemberian obat, kaji masukan dan haluaran.
 Pantau masukan makanan tiap hari.
 Ukur TB, BB dan ketebalan kulit trisep (pengukuran antropometri)
 Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori, kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat.
 Kontrol faktor lingkungan (bau dan panadangan yang tidak sedap dan kebisingan)

4. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder imunosupresi
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil :
 Menunjukkan suhu normal dan tanda-tanda vital normal
 Tidak menunjukkan tanda-tanda inflamasi : edema setempat, eritema, nyeri.
 Menunjukkan bunyi nafas normal, melakukan nafas dalam untuk menegah disfungsi dan infeksi respiratori
Intervensi :
 Kaji pasienterhadap bukti adanya infeksi :
 Periksa tanda vital, pantau jumlah SDP, tempat masuknya patogen, demam, menggigil, perubahan respiratori atau status mental, frekuensi berkemih atau rasa perih saat berkemih
 Tingkatkan prosedur cuci tangan yang baik pada staf dan pengunjung, batasi pengunjung yang mengalami infeksi.
 Tekankan higiene personal
 Pantau suhu
 Kaji semua sistem (pernafasan, kulit, genitourinaria)

9. Resiko terhadap perdarahan berhubungan dengan gangguan sistem hematopoetik
Tujuan : perdarahan dapat teratasi
Kriteria hasil :
 Tanda dan gejala perdarahan teridentifikasi
 Tidak menunjukkan adanya epistaksis
Intervensi :
 Kaji terhadap potensial perdarahan : pantau jumlah trombosit
 Kaji terhadap perdarahan : epsitaksis
 Instruksikan cara-cara meminimalkan perdarahan : minimalkan penekanan/ gesekan pada hidung




















Kepustakaan

1. Averdi R, Umar SD. Angiofibroma Nasofaring Belia. Dalam : Efiaty AS, Nurbaiti I.
2. Buku ajar ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke 5, Jakarta : Balai Penerbit FK UI, 2001. 151-2.
3. Tewfik TL. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma. Available from URL : http://www.emedicine.com/ent/topic470.htm
4. Adams GL, et al. Boies – Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997.
5. Sadeghi N. Sinonasal Papillomas, Treatment. Available from URL : http://www.emedicine.com/ent/topic529.htm
6. Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
7. Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001
8. R. Sjamsuhidajat &Wim de jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta : EGC ; 1997
4. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN FRAKTUR

By Iwan Sain, S.Kp, M.Kes

A. Konsep Medis
1. Anatomi dan Fisiologi
a. Anatomi Tulang
Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada ba intra-seluler. Tulang berasal dari embrionic hyaline cartilage yang mana melalui proses “Osteogenesis” menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut “Osteoblast”. Proses mengerasnya tulang akibat penimbunan garam kalsium.
Ada 206 tulang dalam tubuh manusia, Tulang dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya :
1). Tulang panjang (Femur, Humerus) terdiri dari batang tebal panjang yang disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Di sebelah proksimal dari epifisis terdapat metafisis. Di antara epifisis dan metafisis terdapat daerah tulang rawan yang tumbuh, yang disebut lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. Tulang panjang tumbuh karena akumulasi tulang rawan di lempeng epifisis. Tulang rawan digantikan oleh sel-sel tulang yang dihasilkan oleh osteoblas, dan tulang memanjang. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat. Epifisis dibentuk dari spongi bone (cancellous atau trabecular). Pada akhir tahun-tahun remaja tulang rawan habis, lempeng epifisis berfusi, dan tulang berhenti tumbuh. Hormon pertumbuhan, estrogen, dan testosteron merangsang pertumbuhan tulang panjang. Estrogen, bersama dengan testosteron, merangsang fusi lempeng epifisis. Batang suatu tulang panjang memiliki rongga yang disebut kanalis medularis. Kanalis medularis berisi sumsum tulang.
2). Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak teratur dan inti dari cancellous (spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.
3). Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri atas dua lapisan tulang padat dengan lapisan luar adalah tulang concellous.
4). Tulang yang tidak beraturan (vertebrata) sama seperti dengan tulang pendek.
5). Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar tulang yang berdekatan dengan persediaan dan didukung oleh tendon dan jaringan fasial, misalnya patella (kap lutut).
Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Sel-selnya terdiri atas tiga jenis dasar-osteoblas, osteosit dan osteoklas. Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang. Matriks tersusun atas 98% kolagen dan 2% subtansi dasar (glukosaminoglikan, asam polisakarida) dan proteoglikan). Matriks merupakan kerangka dimana garam-garam mineral anorganik ditimbun. Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteon (unit matriks tulang ). Osteoklas adalah sel multinuclear ( berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran, resorpsi dan remosdeling tulang.
Osteon merupakan unik fungsional mikroskopis tulang dewasa. Ditengah osteon terdapat kapiler. Dikelilingi kapiler tersebut merupakan matriks tulang yang dinamakan lamella. Didalam lamella terdapat osteosit, yang memperoleh nutrisi melalui prosesus yang berlanjut kedalam kanalikuli yang halus (kanal yang menghubungkan dengan pembuluh darah yang terletak sejauh kurang dari 0,1 mm).
Tulang diselimuti dibagian oleh membran fibrous padat dinamakan periosteum. Periosteum memberi nutrisi ke tulang dan memungkinkannya tumbuh, selain sebagai tempat perlekatan tendon dan ligamen. Periosteum mengandung saraf, pembuluh darah, dan limfatik. Lapisan yang paling dekat dengan tulang mengandung osteoblast, yang merupakan sel pembentuk tulang.
Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan rongga-rongga dalam tulang kanselus. Osteoklast , yang melarutkan tulang untuk memelihara rongga sumsum, terletak dekat endosteum dan dalam lacuna Howship (cekungan pada permukaan tulang).

Gambar 1 Anatomi tulang panjang

Struktur tulang dewasa terdiri dari 30 % bahan organik (hidup) dan 70 % endapan garam. Bahan organik disebut matriks, dan terdiri dari lebih dari 90 % serat kolagen dan kurang dari 10 % proteoglikan (protein plus sakarida). Deposit garam terutama adalah kalsium dan fosfat, dengan sedikit natrium, kalium karbonat, dan ion magnesium. Garam-garam menutupi matriks dan berikatan dengan serat kolagen melalui proteoglikan. Adanya bahan organik menyebabkan tulang memiliki kekuatan tensif (resistensi terhadap tarikan yang meregangkan). Sedangkan garam-garam menyebabkan tulang memiliki kekuatan kompresi (kemampuan menahan tekanan).
Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerus dan dapat berupa pemanjangan dan penebalan tulang. Kecepatan pembentukan tulang berubah selama hidup. Pembentukan tulang ditentukan oleh rangsangn hormon, faktor makanan, dan jumlah stres yang dibebankan pada suatu tulang, dan terjadi akibat aktivitas sel-sel pembentuk tulang yaitu osteoblas.
Osteoblas dijumpai dipermukaan luar dan dalam tulang. Osteoblas berespon terhadap berbagai sinyal kimiawi untuk menghasilkan matriks tulang. Sewaktu pertama kali dibentuk, matriks tulang disebut osteoid. Dalam beberapa hari garam-garam kalsium mulai mengendap pada osteoid dan mengeras selama beberapa minggu atau bulan berikutnya. Sebagian osteoblast tetap menjadi bagian dari osteoid, dan disebut osteosit atau sel tulang sejati. Seiring dengan terbentuknya tulang, osteosit dimatriks membentuk tonjolan-tonjolan yang menghubungkan osteosit satu dengan osteosit lainnya membentuk suatu sistem saluran mikroskopik di tulang.
Kalsium adalah salah satu komponen yang berperan terhadap tulang, sebagian ion kalsium di tulang tidak mengalarni kristalisasi. Garam nonkristal ini dianggap sebagai kalsium yang dapat dipertukarkan, yaitu dapat dipindahkan dengan cepat antara tulang, cairan interstisium, dan darah.
Sedangkan penguraian tulang disebut absorpsi, terjadi secara bersamaan dengan pembentukan tulang. Penyerapan tulang terjadi karena aktivitas sel-sel yang disebut osteoklas. Osteoklas adalah sel fagositik multinukleus besar yang berasal dari sel-sel mirip-monosit yang terdapat di tulang. Osteoklas tampaknya mengeluarkan berbagai asam dan enzim yang mencerna tulang dan memudahkan fagositosis. Osteoklas biasanya terdapat pada hanya sebagian kecil dari potongan tulang, dan memfagosit tulang sedikit demi sedikit. Setelah selesai di suatu daerah, osteoklas menghilang dan muncul osteoblas. 0steoblas mulai mengisi daerah yang kosong tersebut dengan tulang baru. Proses ini memungkinkan tulang tua yang telah melemah diganti dengan tulang baru yang lebih kuat.
Keseimbangan antara aktivitas osteoblas dan osteoklas menyebabkan tulang terus menerus diperbarui atau mengalami remodeling. Pada anak dan remaja, aktivitas osteoblas melebihi aktivitas osteoklas, sehingga kerangka menjadi lebih panjang dan menebal. Aktivitas osteoblas juga melebihi aktivitas osteoklas pada tulang yang pulih dari fraktur. Pada orang dewasa muda, aktivitas osteoblas dan osteoklas biasanya setara, sehingga jumlah total massa tulang konstan. Pada usia pertengahan, aktivitas osteoklas melebihi aktivitas osteoblas dan kepadatan tulang mulai berkurang. Aktivitas osteoklas juga meningkat pada tulang-tulang yang mengalami imobilisasi. Pada usia dekade ketujuh atau kedelapan, dominansi aktivitas osteoklas dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh sehingga mudah patah. Aktivitas osteoblas dan osteoklas dikontrol oleh beberapa faktor fisik dan hormon.
Faktor-faktor yang mengontrol Aktivitas osteoblas dirangsang oleh olah raga dan stres beban akibat arus listrik yang terbentuk sewaktu stres mengenai tulang. Fraktur tulang secara drastis merangsang aktivitas osteoblas, tetapi mekanisme pastinya belum jelas. Estrogen, testosteron, dan hormon perturnbuhan adalah promotor kuat bagi aktivitas osteoblas dan pertumbuhan tulang. Pertumbuhan tulang dipercepat semasa pubertas akibat melonjaknya kadar hormon-hormon tersebut. Estrogen dan testosteron akhirnya menyebabkan tulang-tulang panjang berhenti tumbuh dengan merangsang penutupan lempeng epifisis (ujung pertumbuhan tulang). Sewaktu kadar estrogen turun pada masa menopaus, aktivitas osteoblas berkurang. Defisiensi hormon pertumbuhan juga mengganggu pertumbuhan tulang.
Vitamin D dalam jumlah kecil merangsang kalsifikasi tulang secara langsung dengan bekerja pada osteoblas dan secara tidak langsung dengan merangsang penyerapan kalsium di usus. Hal ini meningkatkan konsentrasi kalsium darah, yang mendorong kalsifikasi tulang. Namun, vitamin D dalam jumlah besar meningkatkan kadar kalsium serum dengan meningkatkan penguraian tulang. Dengan demikian, vitamin D dalam jumlah besar tanpa diimbangi kalsium yang adekuat dalam makanan akan menyebabkan absorpsi tulang.
Adapun faktor-faktor yang mengontrol aktivitas osteoklas terutama dikontrol oleh hormon paratiroid. Hormon paratiroid dilepaskan oleh kelenjar paratiroid yang terletak tepat di belakang kelenjar tiroid. Pelepasan hormon paratiroid meningkat sebagai respons terhadap penurunan kadar kalsium serum. Hormon paratiroid meningkatkan aktivitas osteoklas dan merangsang pemecahan tulang untuk membebaskan kalsium ke dalam darah. Peningkatan kalsium serum bekerja secara umpan balik negatif untuk menurunkan pengeluaran hormon paratiroid lebih lanjut. Estrogen tampaknya mengurangi efek hormon paratiroid pada osteoklas.
Efek lain Hormon paratiroid adalah meningkatkan kalsium serum dengan menurunkan sekresi kalsium oleh ginjal. Hormon paratiroid meningkatkan ekskresi ion fosfat oleh ginjal sehingga menurunkan kadar fosfat darah. Pengaktifan vitamin D di ginjal bergantung pada hormon paratiroid. Sedangkan kalsitonin adalah suatu hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid sebagai respons terhadap peningkatan kadar kalsium serum. Kalsitonin memiliki sedikit efek menghambat aktivitas dan pernbentukan osteoklas. Efek-efek ini meningkatkan kalsifikasi tulang sehingga menurunkan kadar kalsium serum.

b. Fisiologi Tulang
Fungsi tulang adalah sebagai berikut :
1). Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh.
2). Melindungi organ tubuh (misalnya jantung, otak, dan paru-paru) dan jaringan lunak.
3). Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan pergerakan).
4). Membentuk sel-sel darah merah didalam sum-sum tulang belakang (hema topoiesis).
5). Menyimpan garam mineral, misalnya kalsium, fosfor.

2. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer et al, 2000). Sedangkan menurut Linda Juall C. dalam buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang.
Patah Tulang Tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar (Soedarman, 2000). Pendapat lain menyatakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi (Handerson, M. A, 1992).

3. Etiologi
1) Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
2) Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
3) Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
4. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
1) Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2) Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.


5. Klasifikasi Fraktur
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
a. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
1). Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
2). Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
b. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.
1). Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
2). Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
a) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
b) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
c) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.

c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma.
1). Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2). Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.
3). Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.
4). Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
5). Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.
d. Berdasarkan jumlah garis patah.
1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
e. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
1). Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
2). Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
a) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping).
b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
f. Berdasarkan posisi frakur
Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
1. 1/3 proksimal
2. 1/3 medial
3. 1/3 distal
g. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
h. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
a. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya.
b. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
c. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.
d. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement.

6. Manifestasi Klinik
a. Deformitas
b. Bengkak/edema
c. Echimosis (Memar)
d. Spasme otot
e. Nyeri
f. Kurang/hilang sensasi
g. Krepitasi
h. Pergerakan abnormal
i. Rontgen abnormal

7. Test Diagnostik
a. Pemeriksaan Rontgen : menentukan lokasi/luasnya fraktur/luasnyatrauma, skan tulang, temogram, scan CI: memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
b. Hitung darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun.
c. Peningkatan jumlal sop adalah respons stress normal setelah trauma.
d. Kreatinin : traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.
e. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multiple, atau cederah hati.

8. Penatalaksanaan Medik
a. Fraktur Terbuka
Merupakan kasus emergensi karena dapat terjadi kontaminasi oleh bakteri dan disertai perdarahan yang hebat dalam waktu 6-8 jam (golden period). Kuman belum terlalu jauh meresap dilakukan:
1) Pembersihan luka
2) Exici
3) Hecting situasi
4) Antibiotik
b. Seluruh Fraktur
1) Rekognisis/Pengenalan
Riwayat kejadian harus jelas untuk mentukan diagnosa dan tindakan selanjutnya.
2) Reduksi/Manipulasi/Reposisi
Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimun. Dapat juga diartikan Reduksi fraktur (setting tulang) adalah mengembalikan fragmen tulang pada kesejajaran¬nya dan rotasfanatomis (brunner, 2001).
Reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka dapat dilakukan untuk mereduksi fraktur. Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap, sama. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaring¬an lunak kehilaugan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, roduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan.
Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur, pasien harus dipersiapkan untuk menjalani prosedur; harus diperoleh izin untuk melakukan prosedur, dan analgetika diberikan sesuai ketentuan. Mungkin perlu dilakukan anastesia. Ekstremitas yang akan dimanipulasi harus ditangani dengan lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut
Reduksi tertutup. Pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual.
Ekstremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan, sementara gips, biadi dan alat lain dipasang oleh dokter. Alat immobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ekstremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar x harus dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar.
Traksi. Traksi dapat digunakan untuk mendapat¬kan efek reduksi dan imoblisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi. Sinar x digunakan untuk memantau reduksi fraktur dan aproksimasi fragmen tulang. Ketika tulang sembuh, akan terlihat pembentukan kalus pada sinar x. Ketika kalus telah kuat dapat dipasang gips atau bidai untuk melanjutkan imobili¬sasi.
Reduksi Terbuka. Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat paku, atau batangan logam digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisnya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. Alat ini dapat diletakkan di sisi tulang atau langsung ke rongga sumsum tulang, alat tersebut menjaga aproksimasi dan fiksasi yang kuat bagi fragmen tulang.
3) Retensi/Immobilisasi
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimun.
Imobilisasi fraktur. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. -Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalut¬an, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan logam dapat digunakan untuk fiksasi interna yang berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur.
4) Rehabilitasi
Menghindari atropi dan kontraktur dengan fisioterapi. Segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neurovaskuler (mis. pengkajian peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan) dipantau, dan ahli bedah ortopedi diberitahu segera bila ada tanda gangguan neurovaskuler. Kegelisahan, ansietas dan keti¬daknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan (mis. meyakinkan, perubahan posisi, strategi peredaan nyeri, termasuk analgetika). Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah. Partisipasi dalam aktivitas hidup sehari hari diusahakan untuk memperbaiki ke-mandirian fungsi dan harga diri. Pengembalian bertahap pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutika. Biasanya, fiksasi interna memungkinkan mobilisasi lebih awal. Ahli bedah yang memperkirakan stabilitas fiksasi fraktur, menentukan luasnya gerakan dan stres pada ekstrermitas yang diperbolehkan, dan menentukan tingkat aktivitas dan beban berat badan.

9. Proses Penyembuhan Tulang
Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:
1) Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
2) Stadium Dua-Proliferasi Seluler
Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.
3) Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada
permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
4) Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.
5) Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.

10. Komplikasi
1) Komplikasi Awal
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat.
c. Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.
d. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
e. Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
f. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.

2) Komplikasi Dalam Waktu Lama
b. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.
c. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
d. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.

B. Konsep Keperawatan
Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap, yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:

a. Pengumpulan Data
1) Anamnesa
a) Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
(1) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri.
(2) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
(3) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
(4) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
(5) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.

c) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).

d) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang
e) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius, Donna D, 1995).

f) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna D, 1995).

g) Pola-Pola Fungsi Kesehatan
(1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.(Ignatavicius, Donna D,1995).
(2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
(3) Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E, 2002).
(4) Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(5) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(6) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(7) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(8) Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius, Donna D, 1995).
10) Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien

2) Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.
a) Gambaran Umum
Perlu menyebutkan:
(1) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:
(a) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien.
(b) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
(c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
(2) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
(a) Sistem Integumen
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.
(b) Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
(c) Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada.
(d) Muka
Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
(e) Mata
Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan)
(f) Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan.
(g) Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
(h) Mulut dan Faring
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
(i) Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
(j) Paru
(1) Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
(2) Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
(3) Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
(4) Auskultasi
Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.
(k) Jantung
(1) Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
(2) Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
(3) Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
(l) Abdomen
(1) Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
(2) Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
(3) Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
(4) Auskultasi
Peristaltik usus normal  20 kali/menit.
(m) Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
b) Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler  5 P yaitu Pain, Palor, Parestesia, Pulse, Pergerakan). Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:
(1) Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
(a) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).
(b) Cape au lait spot (birth mark).
(c) Fistulae.
(d) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
(e) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal).
(f) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
(g) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
(2) Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.
Yang perlu dicatat adalah:
(a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Capillary refill time  Normal 3 – 5 “
(b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian.
(c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah, atau distal).
Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.
(3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif.
(Reksoprodjo, Soelarto, 1995)
3) Pemeriksaan Diagnostik
a) Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-ray:
(1) Bayangan jaringan lunak.
(2) Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi.
(3) Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
(4) Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:
(1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
(2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.
(3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.
(4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.
b) Pemeriksaan Laboratorium
(1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
(2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
(3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
c) Pemeriksaan lain-lain
(1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.
(2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
(3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.
(4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.
(5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
(6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
(Ignatavicius, Donna D, 1995)

b. Dampak Fraktur Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia







3. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang lazim dijumpai pada klien fraktur adalah sebagai berikut:
a. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas.
b. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera vaskuler, edema, pembentukan trombus)
c. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti)
d. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)
e. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup)
f. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)
g. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada
(Doengoes, 2000)



4. Intervensi Keperawatan
a. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas.
Tujuan: Klien mengataka nyeri berkurang atau hilang dengan menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam beraktivitas, tidur, istirahat dengan tepat, menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas trapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Pertahankan imobilasasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, bebat dan atau traksi

2. Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena.

3. Lakukan dan awasi latihan gerak pasif/aktif.

4. Lakukan tindakan untuk meningkatkan kenyamanan (masase, perubahan posisi)

5. Ajarkan penggunaan teknik manajemen nyeri (latihan napas dalam, imajinasi visual, aktivitas dipersional)

6. Lakukan kompres dingin selama fase akut (24-48 jam pertama) sesuai keperluan.

7. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.



Evaluasi keluhan nyeri (skala, petunjuk verbal dan non verval, perubahan tanda-tanda vital)
Mengurangi nyeri dan mencegah malformasi.


Meningkatkan aliran balik vena, mengurangi edema/nyeri.

Mempertahankan kekuatan otot dan meningkatkan sirkulasi vaskuler.

Meningkatkan sirkulasi umum, menurunakan area tekanan lokal dan kelelahan otot.

Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama.

Menurunkan edema dan mengurangi rasa nyeri.


Menurunkan nyeri melalui mekanisme penghambatan rangsang nyeri baik secara sentral maupun perifer.

Menilai perkembangan masalah klien.
b. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer b/d penurunan aliran darah (cedera vaskuler, edema, pembentukan trombus)
Tujuan : Klien akan menunjukkan fungsi neurovaskuler baik dengan kriteria akral hangat, tidak pucat dan syanosis, bisa bergerak secara aktif
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Dorong klien untuk secara rutin melakukan latihan menggerakkan jari/sendi distal cedera.

2. Hindarkan restriksi sirkulasi akibat tekanan bebat/spalk yang terlalu ketat.


3. Pertahankan letak tinggi ekstremitas yang cedera kecuali ada kontraindikasi adanya sindroma kompartemen.

4. Berikan obat antikoagulan (warfarin) bila diperlukan.


5. Pantau kualitas nadi perifer, aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan kulit distal cedera, bandingkan dengan sisi yang normal.

Meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah kekakuan sendi.



Mencegah stasis vena dan sebagai petunjuk perlunya penyesuaian keketatan bebat/spalk.

Meningkatkan drainase vena dan menurunkan edema kecuali pada adanya keadaan hambatan aliran arteri yang menyebabkan penurunan perfusi.

Mungkin diberikan sebagai upaya profilaktik untuk menurunkan trombus vena.

Mengevaluasi perkembangan masalah klien dan perlunya intervensi sesuai keadaan klien.





c. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti)
Tujuan : Klien akan menunjukkan kebutuhan oksigenasi terpenuhi dengan kriteria klien tidak sesak nafas, tidak cyanosis analisa gas darah dalam batas normal
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Instruksikan/bantu latihan napas dalam dan latihan batuk efektif.

2. Lakukan dan ajarkan perubahan posisi yang aman sesuai keadaan klien.

3. Kolaborasi pemberian obat antikoagulan (warvarin, heparin) dan kortikosteroid sesuai indikasi.



4. Analisa pemeriksaan gas darah, Hb, kalsium, LED, lemak dan trombosit







5. Evaluasi frekuensi pernapasan dan upaya bernapas, perhatikan adanya stridor, penggunaan otot aksesori pernapasan, retraksi sela iga dan sianosis sentral.

Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi.


Reposisi meningkatkan drainase sekret dan menurunkan kongesti paru.

Mencegah terjadinya pembekuan darah pada keadaan tromboemboli. Kortikosteroid telah menunjukkan keberhasilan untuk mencegah/mengatasi emboli lemak.

Penurunan PaO2 dan peningkatan PCO2 menunjukkan gangguan pertukaran gas; anemia, hipokalsemia, peningkatan LED dan kadar lipase, lemak darah dan penurunan trombosit sering berhubungan dengan emboli lemak.

Adanya takipnea, dispnea dan perubahan mental merupakan tanda dini insufisiensi pernapasan, mungkin menunjukkan terjadinya emboli paru tahap awal.


d. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)
Tujuan : Klien dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin dapat mempertahankan posisi fungsional meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh menunjukkan tekhnik yang memampukan melakukan aktivitas
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Pertahankan pelaksanaan aktivitas rekreasi terapeutik (radio, koran, kunjungan teman/keluarga) sesuai keadaan klien.

2. Bantu latihan rentang gerak pasif aktif pada ekstremitas yang sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien.




3. Berikan papan penyangga kaki, gulungan trokanter/tangan sesuai indikasi.

4. Bantu dan dorong perawatan diri (kebersihan/eliminasi) sesuai keadaan klien.

5. Ubah posisi secara periodik sesuai keadaan klien.



6. Dorong/pertahankan asupan cairan 2000-3000 ml/hari.

7. Berikan diet TKTP.





8. Kolaborasi pelaksanaan fisioterapi sesuai indikasi.


9. Evaluasi kemampuan mobilisasi klien dan program imobilisasi.

Memfokuskan perhatian, meningkatakan rasa kontrol diri/harga diri, membantu menurunkan isolasi sosial.


Meningkatkan sirkulasi darah muskuloskeletal, mempertahankan tonus otot, mempertahakan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi.

Mempertahankan posis fungsional ekstremitas.



Meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan klien.

Menurunkan insiden komplikasi kulit dan pernapasan (dekubitus, atelektasis, penumonia)
Mempertahankan hidrasi adekuat, men-cegah komplikasi urinarius dan konstipasi.


Kalori dan protein yang cukup diperlukan untuk proses penyembuhan dan mem-pertahankan fungsi fisiologis tubuh.

Kerjasama dengan fisioterapis perlu untuk menyusun program aktivitas fisik secara individual.

Menilai perkembangan masalah klien.


e. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen, kawat, sekrup)
Tujuan : Klien menyatakan ketidaknyamanan hilang, menunjukkan perilaku tekhnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan sesuai indikasi, mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Pertahankan tempat tidur yang nyaman dan aman (kering, bersih, alat tenun kencang, bantalan bawah siku, tumit).

2. Masase kulit terutama daerah penonjolan tulang dan area distal bebat/gips.


3. Lindungi kulit dan gips pada daerah perianal


4. Observasi keadaan kulit, penekanan gips/bebat terhadap kulit, insersi pen/traksi.

Menurunkan risiko kerusakan/abrasi kulit yang lebih luas.



Meningkatkan sirkulasi perifer dan meningkatkan kelemasan kulit dan otot terhadap tekanan yang relatif konstan pada imobilisasi.

Mencegah gangguan integritas kulit dan jaringan akibat kontaminasi fekal.

Menilai perkembangan masalah klien.


f. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang
Tujuan : Klien mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema dan demam
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Lakukan perawatan pen steril dan perawatan luka sesuai protokol

2. Ajarkan klien untuk mempertahankan sterilitas insersi pen.

3. Kolaborasi pemberian antibiotika dan toksoid tetanus sesuai indikasi.




4. Analisa hasil pemeriksaan laboratorium (Hitung darah lengkap, LED, Kultur dan sensitivitas luka/serum/tulang)



5. Observasi tanda-tanda vital dan tanda-tanda peradangan lokal pada luka.
Mencegah infeksi sekunderdan mempercepat penyembuhan luka.

Meminimalkan kontaminasi.



Antibiotika spektrum luas atau spesifik dapat digunakan secara profilaksis, mencegah atau mengatasi infeksi. Toksoid tetanus untuk mencegah infeksi tetanus.

Leukositosis biasanya terjadi pada proses infeksi, anemia dan peningkatan LED dapat terjadi pada osteomielitis. Kultur untuk mengidentifikasi organisme penyebab infeksi.

Mengevaluasi perkembangan masalah klien.


h. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.
Tujuan : klien akan menunjukkan pengetahuan meningkat dengan kriteria klien mengerti dan memahami tentang penyakitnya
INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL

1. Kaji kesiapan klien mengikuti program pembelajaran.



2. Diskusikan metode mobilitas dan ambulasi sesuai program terapi fisik.


3. Ajarkan tanda/gejala klinis yang memerluka evaluasi medik (nyeri berat, demam, perubahan sensasi kulit distal cedera)

4. Persiapkan klien untuk mengikuti terapi pembedahan bila diperlukan.
Efektivitas proses pemeblajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien untuk mengikuti program pembelajaran.

Meningkatkan partisipasi dan kemandirian klien dalam perencanaan dan pelaksanaan program terapi fisik.

Meningkatkan kewaspadaan klien untuk mengenali tanda/gejala dini yang memerulukan intervensi lebih lanjut.


Upaya pembedahan mungkin diperlukan untuk mengatasi maslaha sesuai kondisi klien.



B. Evaluasi
o Nyeri berkurang atau hilang
o Tidak terjadi disfungsi neurovaskuler perifer
o Pertukaran gas adekuat
o Tidak terjadi kerusakan integritas kulit
o Infeksi tidak terjadi
o Meningkatnya pemahaman klien terhadap penyakit yang dialami

Artikel

PERKEMBANGAN ILMU PENGOBATAN ISLAM*
SUATU RENUNGAN TENTANG SUMBANGSIH ILMUWAN MUSLIM
TERHADAP PERKEMBANGAN ILMU KEDOKTERAN-PENGOBATAN

dr. Ahmad Aulia Jusuf, PhD#
Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia



Pendahuluan

Masalah kesehatan merupakan salah satu masalah utama dalam kehidupan manusia sepanjang masa. Sejak manusia menempati muka bumi ini sudah ada penyakit dan upaya-upaya untuk mengobatinya. Keadaan sehat dan sakit merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Bagi makhluk hidup termasuk manusia mengobati suatu penyakit atau mengatasi suatu gangguan merupakan salah satu usaha untuk mempertahankan eksistensinya.
Di dunia tumbuh-tumbuhan dikenal suatu produk metabolisme selain produk metabolisme utama yang disebut sebagai metabolit sekunder. Beberapa contoh metabolit sekunder misalnya : alkaloida, glikosida, terpenoid, flavonoid dan lain sebagainya merupakan racun bagi makhluk lainnya. Seekor binatang yang sehat tidak akan memakan daun oleander yang mengandung glikosida yang berbahaya bagi jantung, juga tidak akan ada yang memakan daun kecubung yang mengandung alkaloida golongan tropan yang bekerja sebagai antikolinergik/parasimpatolitik yang sangat beracun. Umumnya tumbuhan yang mengandung zat beracun tersebut tidak akan mendapat gangguan dari binatang, karena secara naluriah akan dihindarinya1. Seekor hewan yang sakit secara naluriah akan mencari sesuatu dari alam sekelilingnya demi untuk mempertahankan hidupnya. Seekor anjing atau kucing mencari rerumputan atau daun-daunan tertentu; yang memiliki efek memabukkan atau membunuh cacing dan sekaligus mengeluarkan atau memuntahkannya dari saluran pencernaannya. Dengan demikian ia “mengobati dirinya sendiri” dengan mensuplai tubuhnya dengan bahan atau zat tertentu yang bersifat ”obat” untuk dirinya. Bagaimana keadaannya dengan manusia?Yang membedakan manusia dengan hewan adalah “akal”. Akan tetapi, manusia purba dan manusia yang masih hidup primitif (dimana akal masih kurang berkembang) eksistensinya hidupnya juga masih banyak dipengaruhi oleh nalurinya. Bagaimana keadaannya dengan manusia primitif yang sakit atau kekurangan akan suatu zat atau hara dalam sistem faalnya? Contoh berikut dapat

*Disajikan pada Paper & Presentation Workshop ” Mengantar Muslim Muda Menuju Pengukir Karya” Ruang Kuliah
Anatomi 6 Januari 2007
# Staf Pengajar Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


memberikan suatu gambaran : suatu suku bangsa primitif mempunyai kebiasaan memakan tanah. Mulanya hal ini mengherankan, tetapi setelah diadakan penelitian lebih mendalam ternyata ada dua hal yang berkaitan : pertama, tanah yang dimakan banyak mengandung zat besi (Fe); kedua, diit sehari-hari suku tersebut kurang akan zat besi. Secara naluriah suku itu mencari zat besi dari tanah, sehingga mereka tidak akan menderita penyakit anemia karena kekurangan zat besi .
Sepanjang sejarah selalu ada upaya manusia baik sendiri atau berkelompok untuk mencegah dan mengobati penyakit. Berbagai macam cara digunakan untuk memulihkan kesehatan, mulai dari pengobatan dengan menggunakan tanaman, binatang dan mineral, hingga tindakan pembuangan bagian tubuh yang terinfeksi atau terkena penyakit. Upaya-upaya itu kemudian melahirkan berbagai disiplin ilmu yang kita kenal hingga saat ini sebagai ilmu kedokteran, farmasi, kedokteran gigi, keperawatan dan lain sebagainya.
Makalah ini akan berusaha untuk menguraikan sekelumit perkembangan (sejarah) ilmu pengobatan (kedokteran) sebelum masa Islam, masa Rasulullah SAW dan masa setelah Rasulullah SAW, terutama pada zaman kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, ketika Kekhalifahan Islam mencapai puncak kejayaan. Semoga tulisan ini menjadi bahan renungan dan cambuk bagi kita semua.


Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Pengobatan

Terapi menurut kamus ilmiah populer adalah pengobatan, ilmu pengobatan, cara pengobatan. Sementara dalam kamus kedokteran istilah terapi diartikan sebagai pemberian pertolongan kepada orang yang sakit, usaha untuk mrenyembuhkan orang yang sakit atau bisa diartikan sebagai cara pengobatan. Dalam bahasa Arab, istilah terapi sepadan dengan kata istisyfa’, berasal dari akar kata syafa’-yasyfii-syifa, yang artinya menyembuhkan. Istilah ini menyangkut mencakup unsur preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), terhadap penyakit dan rehabilitasi (pemulihan) setelah sembuh dari penyakit.
Konsep-konsep terkait dengan ilmu kedokteran dan pengobatan serta ilmu pendukungnya berkembang pada tiap zaman sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat yang hidup di masa tersebut. Perkembangan ilmu kedokteran (pengobatan) dimulai sejak zaman pra-sejarah, zaman Babylonia-Assyria, zaman Mesir kuno, zaman Yunani Kuno, dan zaman pertengahan. Pada zaman pertengahan inilah ilmu pengobatan (kedokteran) Islam berkembang dengan pesat yang mendasari perkembangan ilmu kedokteran modern (masa kini).


I. Perkembangan Ilmu Pengobatan dan Kedokteran Sebelum Zaman Rasulullah SAW

A. Perkembangan Ilmu Pengobatan (Kedokteran) Zaman Pra Sejarah

Diantara beberapa karakteristik yang unik dari Homo sapiens adalah kemampuannya untuk mengatasi penyakit, baik fisik maupun mental dengan menggunakan obat-obatan. Dari bukti arkeologi didapatkan bahwa pencarian terhadap obat-obatan setua pencarian manusia terhadap peralatan lain. Seperti halnya bebatuan yang digunakan untuk pisau dan kapak, obat-obatan pun jarang sekali tersedia dalam bentuk siap pakai. Bahan-bahan obat tersebut harus dikumpulkan, diproses dan disiapkan; kemudian digabungkan menjadi satu untuk digunakan dalam pengobatan Aktivitas ini, telah dilakukan jauh sebelum sejarah manusia dimulai dan sampai sekarang tetap menjadi fokus utama praktek kefarmasian.
Manusia purba belajar dari insting atau naluri, dengan melakukan pengamatan terhadap hewan. Pertama kali mereka menggunakan air dingin, sehelai daun, debu, bahkan lumpur untuk pengobatan6. Naluri untuk menghilangkan rasa sakit pada luka dengan merendamnya dalam air dingin atau menempelkan daun segar pada luka tersebut atau menutupinya dengan lumpur, hanya berdasarkan kepercayaan. Manusia purba belajar dari pengalaman dan mendapatkan cara pengobatan yang satu lebih efektif dari yang lain. Dari sinilah permulaan terapi dengan obat dimulai. Mereka menularkan pengetahuan ini kepada sesamanya. Walupun metode yang mereka gunakan masih kasar, akan tetapi banyak sekali obat-obatan yang ada saat ini diperoleh dari sumbernya dengan metode sederhana dan mendasar seperti yang telah mereka lakukan


B. Zaman Babylonia-Assyiria

Bangsa Sumeria yang mendiami bagian selatan kerajaan Babylonia sekitar tahun 3000 SM telah meninggalkan catatan-catatan tentang pengobatan. Disamping itu bangsa Sumeria dan penerusnya bangsa Babylonia dan Assyiria telah meninggalkan ribuan tablet lempung dalam puing-puing peninggalan mereka sebagai salah satu peninggalan peradaban manusia yang paling berharga. Para ahli sejarah baru berhasil mengungkap ”bagian yang hilang” dari catatan kuno ini setelah berabad-abad kemudian. Bangsa-bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang besar dan telah melakukan observasi terhadap planet-planet dan bintang-bintang yang mendasari ilmu astronomi. Mereka menyakini bahwa kedudukan dan gerakan bintang mempengaruhi kejadian di bumi. Kepercayaan ini mempengaruhi sikap mereka terhadap penyakit.
Dari catatan-catatan kuno ini terungkap bahwa ada 3 aspek penting dalam ilmu pengobatan Babylonia-Assyiria yakni aspek ketuhanan (divination), pengusiran roh jahat/setan (excorcism) dan penggunaan obat-obatan. Ketiga aspek ini merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Penyakit dianggap sebagai kutukan atau hukuman Tuhan dan pengaruh dari roh jahat/setan, sedangkan pengobatan adalah pembersihan/pensucian dari kedua hal di atas. Konsep ini dikenal sebagai konsep katarsis (Catharsis). Konsep ini menjelaskan makna asli kata ”pharmakon” (bhs. Yunani) yangmerupakan asal kata pharmacy(farmasi). Konsep pharmakon dijelaskan sebagai upaya penyembuhan atau pensucian dengan cara mengeluarkan atau membersihkan.
Para pendeta di masa itu berperan sebagai rohaniwan (diviner) dan pengusir setan, yang mendukung peran mereka sebagai penyembuh/dokter. Dalam literatur lain disebutkan bahwa terdapat pemisahan profesi penyembuh di antara bangsa Babylonia, yakni penyembuh empiris dan penyembuh yang spiritualis. Penyembuh spiritualis dikenal sebagai asipu, yang menekankan pada penggunaan mantra/doa-doa bersama dengan batu-batu bertuah/jimat-jimat dalam pengobatan. Pada salah satu tablet lempung tercatat adanya mantra/doa yang tertulis di awal dan di akhir suatu formula obat. Mantra/doa tersebut diharapkan memberi kekuatan menyembuhkan kepada obat-obatan yang telah dibuat. Fenomena ini mungkin masih sering dijumpai di berbagai pengobatan tradisional atau pengobatan alternatif bangsa kita. Penyembuh empiris dikenal sebagai asu, yang menggunakan obat/ramuan tertentu dalam bentuk sediaan farmasi yang sekarang masih digunakan seperti : pil, supositoria, enema, bilasan, dan salep. Kedua penyembuh tersebut seringkali bekerjasama dalam menangani penyakit yang berat/sulit disembuhkan. Selain kedua penyembuh tersebut terdapat sekelompok orang yang juga meracik obat dan kosmetik yang disebut pasisu. Akan tetapi peranan dan kedudukan mereka dalam pengobatan belum diketahui secara pasti.
R. Campbell Thompson mendapatkan ratusan tablet lempung dari hasil penggalian perpustakaan raja Assurbanipal dari Assyria. Thompson telah berhasil mengidentifikasi 250 tanaman obat dan 120 obat-obat mineral, juga minuman beralkohol, lemak dan minyak, bagian tubuh hewan, madu, lilin, serta berbagai susu yang digunakan dalam pengobatan. Bahkan juga dikenal penggunaan kotoran (tinja) hewan atau manusia dalam salah satu metode pengobatan bangsa Babylonia-Assyria. Kotoran tersebut diharapkan dapat membuat jijik dan mengusir roh jahat yang merasuki tubuh pasien dengan segera. Tumbuhan obat yang dikenal saat itu misalnya pine turpentine, styrax, galbanum, hellebore, myrrh, asafoetida, calamus, ricinus, mentha, opium, glycyrrhyza, mandragora, cannabis, crocus serta thymus. Sebagian besar tumbuhan tersebut masih digunakan untuk pengobatan hingga saat ini. Berbagai bentuk sediaan yang ada meliputi anggur obat, mikstura, salep, enema, tapel, plester, losio, infusa dan fumigan. Pada catatan kefarmasian yang tertua (ditulis oleh bangsa Sumeria 4000 tahun yang lalu) terdapat berbagai macam formula obat, dimana komposisinya ditulis tidak kuantitatif sebagai berikut “Haluskan biji carpenter, gom resin markasi dan thymi; larutkan dalam bir untuk diminum”.
Jimat, mantra dan sihir menjadi bagian dari kebudayaan bangsa Mesopotamia. Seperti yang telah diuraikan, pada salah satu formula obat terdapat tulisan mantra/doa yang memberikan kekuatan menyembuhkan kepada obat yang dibuat. Dewa Ea dan Gula adalah dewa-dewa bangsa Babylonia-Assyria yang paling sering disebut dalam mantra-mantra yang terdapat dalam formula-formula obat. Dewa pengobatan yakni Ninazu, adalah pelindung para penyembuh/pendeta. Sedangkan putranya yakni Ningischzida adalah nabi mereka. Suatu hal yang cukup menarik adalah simbol kedua dewa tersebut adalah tongkat dan ular, yang mengingatkan simbol ilmu kedokteran modern yang diadopsi dari bangsa Yunani ratusan tahun kemudian.
Bahan-bahan tertentu untuk membuat obat tersebut mungkin saja telah memiliki kekuatan menyembuhkan walaupun tanpa intervensi para pendeta melalui mantra atau doa-doa mereka yang sekarang kita kenal sebagai bahan yang aktif secara farmakologi. Namun demikian ada dua hal yang diwariskan kepada kita; yang pertama adalah pengetahuan tentang bahan-bahan tertentu yang memiliki kekuatan “supernatural” (terutama tumbuhan obat) dan yang kedua adalah konsep mempengaruhi fungsi tubuh dengan menggunakan bahan-bahan (obat) tersebut, yang sekarang dikenal sebagai farmakoterapi.

C. Zaman Mesir Kuno

Piramida yang masih berdiri dengan kokoh hingga saat ini merupakan bukti kekuatan dan kejayaan bangsa Mesir selain pembalseman mayat-mayat (mumi), lukisan dinding dan harta benda di kompleks-kompleks pemakaman. Bangsa Mesir mencatat kejadian-kejadian pada saat itu atau ide-ide mereka (misalnya sistem pengairan dan pertanian) dengan menulisnya di papyrus atau dalam bentuk hyeroglyph mulai tahun 3000 SM, sebelum mereka mengembangkan peradaban dengan teknologi metalurgi (penempaan logam) yang maju. Mereka berdagang dan kadang berperang dengan negeri-negeri sekitarnya di sebelah timur Mediterania dan Afrika.
Seperti halnya di Babylonia, pada catatan peninggalan Mesir menunjukkan hubungan yang dekat antara penyembuhan supranatural dengan penyembuhan empiris. Resep/formula obat biasanya diawali dengan doa atau mantra tertentu. Di dalam formula-formula tersebut disebutkan obat-obat yang lebih rumit, bentuk sediaan yang lebih banyak dan teknik pembuatan yang mendetil. Mungkin yang paling terkenal dari catatan yang ada adalah Ebers Papyrus, suatu kertas bertulisan yang panjangnya 60 kaki dan lebarnya satu kaki dari abad ke-16 SM. Dokumen ini sekarang berada di University of Leipzig, untuk mengingat seorang ahli tentang Mesir, berkebangsaan Jerman, bernama Georg Ebers, yang menemukan dokumen tersebut di kuburan suatu mumi dan menerjemahkannya sebagian, selama setengah dari akhir abad ke-19.
Sebagaian besar isi Papirus Ebers adalah formula-formula obat, yang menguraikan lebih dari 800 formula. Selain itu disebutkan juga sekitar 700 obat-obatan yang berbeda. Obat-obatan tersebut terutama berasal dari tumbuhan walupun tercatat juga obat-obatan yang berasal dari mineral dan hewan. Obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan sampai sekarang masih dipakai, antara lain seperti akasia, biji jarak, adas, disebut bersama-sama dengan yang berasal dari mineral, seperti besi oksida, natrium bikarbonat, natrium klorida dan sulfur. Kotoran hewan juga digunakan dalam pengobatan seperti halnya di Babylonia. Dalam literatur lain disebutkan bahwa psyllium disebutkan dalam Papirus Ebers dan dikenal sebagai laksatif dan antidiare sekitar tahun 1500 SM. Saat ini psyllium lebih dikenal dengan nama dagang Metamucil yang sering dijumpai di apotek.
Bahan pembawa sediaan (vehiculum) yang dipakai adalah bir, anggur, susu dan madu. Madu dan lilin juga sering digunakan sebagai bahan pengikat (binders) dalam formula-formula tersebut. Mortir, penggiling tangan, ayakan dan timbangan biasa digunakan oleh orang Mesir dalam membuat supositoria, obat kumur, pil, obat hisap, troikisi, lotio, salep mata, plester dan enema; seperti halnya dalam peracikan obat-obatan (teknologi farmasi) saat ini.
Berbeda dengan formula-formula bangsa Babylonia yang ditulis secara kualitatif saja, formula-formula Mesir kuno ditulis secara kuantitatif. Dikenal satuan ro (1 ro = ± 15 ml). Selain itu juga ditulis lama pengobatan (terapi) empat hari yang merupakan lama pengobatan yang umum di Mesir saat itu, yang mungkin lebih menekankan aspek “sihir”nya dibanding hasil observasi klinis. Di bawah ini adalah salah satu contoh formula tersebut. Formula untuk membersihkan purulensi :
Hyoscyamus 20 ro
Dates 4 ro
Wine 5 ro
Ass’s milk 20 ro
Di rebus, dipekatkan dan diminum selama empat hari

Salinan formula-formula obat disebarluaskan dari satu penyembuh ke penyembuh lainnya, juga dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kadangkala sebagian obat diambil dari formula aslinya dan dikombinasikan begitu saja dengan obat-obat lain dari formula yang berbeda. Kemungkinan besar hal ini merupakan awal munculnya pengobatan yang disebut dengan “polifarmasi” (poli = banyak, farmasi = obat) yang kelak diketahui sebagai salah satu metode pengobatan yang tidak rasional.
Seperti halnya di Babylonia, bangsa Mesir juga mengenal dewa-dewa yang berpengaruh dalam pengobatan seperti Thoth, Osiris, Isis, Horus dan Imhotep. Salah satu simbol yang menghubungkan praktek kefarmasian saat ini dengan mitologi kuno adalah simbol Rx, yang dijumpai dalam penulisan resep di seluruh dunia. Sebagian besar pendapat menyatakan bahwa simbol tersebut berasal dari simbol mata Horus, dewa elang bangsa Mesir. Horus selalu mengawasi setiap proses pembuatan obat, sebagai simbol bahwa profesi farmasis selalu mendapat pengawasan dari Tuhan sehingga setiap pelaku profesi ini harus selalu bekerja dengan baik, cermat dan jujur karena Tuhan selalu melihat dan mengawasi mereka. Horus ditugaskan oleh Isis, ibunya sebagai penjaga balai pengobatan (house of medicine) para dewa.

D. Zaman Yunani Kuno

Pada milenium berikutnya, akar dari profesi kesehatan di dunia Barat muncul dan berkembang dari peradaban bangsa Yunani di kepulauan dan laut Aegea. Bangsa Yunani mendapatkan berbagai stimuli dan pengaruh dari luar yakni dari Mesopotamia dan Mesir.
Bangsa Yunani adalah bangsa yang pertama kali menguraikan secara sistematis fenomena di alam dan kedudukan manusia di dalamnya, yang sekarang dikenal sebagai filsafat. Istilah “philosopher” berasal dari bahasa Yunani philos (teman) dan sophia ( kebijaksanaan) yang berarti kebijaksanaan telah terdapat di dalam setiap orang yang berusaha mencarinya dan kebijaksanaan akan menjadi temannya. Sebagian besar para filsuf berusaha menjelaskan secara rasional tentang alam dan fenomena yang terjadi di dalamnya termasuk kaitannya dengan seni pengobatan. Masalah yang sering dihadapi oleh para filsuf tersebut adalah : penjelasan rasional apakah yang bisa didapatkan dari asal-usul dunia dimana manusia hidup di dalamnya dan asal-usul penyakit yang diderita oleh manusia.
Empedocles (504 SM) mengemukakan ide bahwa ada 4 unsur yang menjadi akar dari segala sesuatu termasuk tubuh hewan dan manusia yakni : air, udara, api dan tanah. Teori ini disebut sebagai teori 4 elemen. Menurut Empedocles dan para pengikutnya sehat merupakan keseimbangan dari keempat elemen tersebut, sedangkan sakit disebabkan karena ketidakseimbangan keempat elemen tersebut.
Hippocrates (460-370 SM) adalah seorang dokter Yunani yang dihargai karena memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Dia menerangkan obat secara rasional, dan menyusun sistematika pengetahuan kedokteran serta meletakkan pekerjaan kedokteran pada suatu etik yang tinggi. Pemikirannya tentang etika dan ilmu kedokteran memenuhi tulisan-tulisan ilmu kedokteran, baik yang ditulisnya sendiri maupun penerusnya. Konsep dari pandangannya disusun dalam bentuk sumpah Hippocrates, yang merupakan tata cara dan perilaku untuk profesi kedokteran. Hasil pekerjaannya termasuk uraian dari ratusan obat-obatan. Sebagai pelopor dalam ilmu kedokteran dan ajarannya yang memberikan inspirasi serta falsafahnya yang sudah maju dan merupakan bagian dari ilmu kedokteran modern, Hippocrates diberi penghargaan yang tinggi dan disebut sebagai “Bapak Ilmu Kedokteran”
Di dalam korpus (corpus) atau kumpulan naskah Hippocrates terdapat konsep keseimbangan 4 cairan tubuh (humor) yang menggantikan konsep 4 elemen Empedocles sebagai faktor penyebab keadaan sehat atau sakit. Di dalam konsep ini disebutkan bahwa 4 elemen dalam alam seperti : tanah, udara, air dan api pararel dengan 4 cairan tubuh yang paling berpengaruh yakni : empedu hitam (black bile), darah (blood), cairan empedu (yellow bile) dan dahak (phlegm). Keseimbangan dan distribusi keempat cairan tubuh tersebut sangat penting bagi makhluk hidup.
Pengobatan yang utama menurut kaum Hippocratean (pengikut Hippocrates) adalah digunakannya bahan-bahan yang memiliki efek purgatif (pencahar kuat), sudorifik (meningkatkan pengeluaran keringat), emetik (memuntahkan) dan enema (cairan urus-urus, umumnya disemprotkan ke dalam anus). Pada intinya bahan-bahan tersebut digunakan untuk mengobati penyakit yang dipercaya pada saat itu, disebabkan oleh kelebihan cairan tubuh. Proses penyembuhan tersebut dikenal sebagai pembersihan, pemurnian atau penyucian tubuh (body catharsis). Konsep ini merubah makna kata pharmakon sebelumnya, yang mengacu kepada jimat atau guna-guna (baik menyembuhkan atau meracuni) menjadi bahan-bahan pembersih atau penyuci tubuh (purifying remedy).
Sejarah pengobatan zaman Yunani juga tidak lepas dari pengaruh mitologi. Dalam mitologi Yunani yang dikenal sebagai dewa pengobatan awalnya adalah Apollo, yang kemudian digantikan oleh Asklepios (Aesculapius), setelah Apollo dibunuh oleh Zeus, raja para dewa. Apollo mendapatkan pengetahuan tentang obat-obatan dari Chiron, bangsa Centaur (manusia dengan dua tangan dan berbadan kuda, lambang bintang Sagitarius). Dalam melakukan tugasnya, Asklepios dibantu oleh dua orang putrinya yakni Hygea dan Panacea. Pada masa itu didirikan balai pengobatan atau Sanctuary untuk memuja Asklepios dan kedua putrinya. Mereka yang telah lama mengalami penderitaan akibat penyakit pergi ke kuil dewa Asklepios, kemudian tidur dengan harapan akan dikunjungi oleh dewa atau putrinya Hygeia yang membawa ular dan semangkuk obat dalam mimpinya. Ular dan mangkok tersebut kemudian menjadi simbol farmasi, bahkan telah diadopsi menjadi simbol kesehatan. Tongkat Asklepios diadopsi menjadi simbol kedokteran di seluruh dunia. Selanjutnya, dikenal tumbuhan Panacea yang dianggap memiliki berbagai khasiat atau dapat menyembuhkan segala macam penyakit (obat dewa).

E. Zaman Abad Pertengahan

Pada permulaan era agama Kristen terdapat beberapa nama ilmuwan Yunani dan Romawi yang memberikan berpengaruh terhadap perkembangan ilmu kedokteran. Beberapa ilmuwan telah memberi warna terhadap perkembangan ilmu kedokteran
Theophrastus (370-285 SM), seorang murid dari Aristoteles telah melakukan penelitian besar-besaran terhadap tumbuh-tumbuhan, terutama yang berperan dalam pengobatan. Usaha Theophrastus diteruskan oleh Dioscorides (Th 65 SM), yang merupakan orang pertama yang menggunakan ilmu tumbuh-tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Ia mengarang buku de Materia Medica Libri Quinque, yang merupakan ensiklopedia obat standar selama ratusan tahun berikutnya. Ilmuwan lainnya adalah Pliny yang menulis ensiklopedia yang diterjemahkan sebagai Natural History dan largus yang menulis buku Compositiones.
Galen (131-201 M) seorang dokter Yunani yang berpraktek di Roma pada abad ke-2 Masehi menggunakan sistem pengobatan yang berdasarkan pada cairan tubuh. Galen menguraikan secar panjang lebar suatu sistem yang mengharuskna mempertahankan keseimbangan cairan di suatu individu yang sakit dengan menggunakan obat-obatan yang memiliki sifat berlawanan. Contohnya untuk mengobati radang atau inflamasi (in = di dalam dan flame=api, panas) digunakan mentimun yang bersifat dingin. Galen telah memberikan pedoman yang bersifat rasional dan sistematis dalam memilih obat (walaupun pada saat ini dianggap salah). Menurut Galen, masing-masing keempat cairan tubuh memiliki sifat tertentu, yakni : darah bersifat lembab dan hangat, dahak (yang dianggap berasal dari otak) bersifat lembab dan dingin, empedu (yang dianggap berasal dari hati) bersifat hangat dan kering, serta empedu hitam (yang dianggap berasal dari limpa dan lambung) bersifat dingin dan kering. Selain itu, keempat cairan tubuh tersebut mempengaruhi sistem metabolisme dan temperamen seseorang, seperti melankolis atau sanguinis. Galen mengaitkan antara penyakit dengan ketidakseimbangan cairan tubuh tertentu. Selain itu, Galen telah mengenalkan teknik “perdarahan”, yakni mengurangi volume darah yang dianggap banyak mengandung penyakit. Galen juga menyarankan penggunaan polifarmasi dengan argumen tubuh pasien akan mengeluarkan berbagai obat yang kompleks tersebut untuk menjaga keseimbangkan cairan tubuh. Galen telah menciptakan suatu sistem yang sempurna mengenai fisiologi, patologi dan pengobatan serta merumuskan doktrin yang diikuti selama 1500 tahun. Dia adalah pengarang yang memiliki karya paling banyak di jamannya maupun jaman lain dan telah mendapat penghargaan untuk 500 buku tentang kedokteran serta 250 buku lainnya tentang filsafat, hukum maupun tata bahasa.
Setelah itu sampai awal abad ke VI Masehi dunia kedokteran dan pengobatan tidak mengalami perkembangan.


II. Perkembangan Ilmu Pengobatan dan Ilmu Kedokteran Zaman Rasulullah SAW

Lahirnya Agama Islam di tanah Arab yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW telah merubah wajah dunia dari zaman kebatilan dan kebodohan ke zaman yang dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan dan kemasyarakatan yang luhur.
Munculnya Islam juga telah membawa banyak perubahan dalam bidang ilmu pengetahuan termasuk Ilmu kedokteran dan pengobatan. Hal ini tidaklah mengherankan karena Rasulullah SAW telah bersabda: ”Aku diutus untuk membawa ungkapan-ungkapan yang singkat dan padat (jelas)” (HR. Bukhari dan Muslim). Mukjizat Alqur’an dan Hadist secara ilmiah adalah pemberitaan tentang suatu fakta yang kemudian dibenarkan ilmu empiris dan terbukti bahwa fakta itu tidak mungkin diketahui melalui peralatan manusia yang ada pada masa Rasulullah SAW.
Di dalam Al-Quran terdapat banyak fakta ilmiah yang baru terbukti setelah berlalu beberapa waktu. Allah SWT berfirman ” Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengtahui (kebenaran) berita Al-Qur’an setelah beberapa waktu” (QS Shad: 87-88). Di lain ayat Allah SWT juga berfirman ” Untuk tiap-tiap berita yang dibawa oleh Rasul-Rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahuinya” (QS Al-An’am: 67).
Salah satu hadist Nabi yang baru bisa dibuktikan kebenarannya oleh para anatom beberapa waktu lalu adalah hadist yang berbunyi ”Sesungguhnya dalam jasad manusia itu ada tiga ratus enam puluh persendian. Barangsiapa yang mampu membebaskan satu persendian dari api neraka, maka hendaklah ia kerjakan. Ada yang bertanya,”Bagaimana caranya, wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab yaitu seseorang mengucapkan lafal takbir atau mengucapkan lafal tasbih atau menyingkirkan duri dari jalan atau menyuruh kepada kebaikan, atau mencegah dari kemungkaran” (HR. Bukhari-Muslim).
Selintas hadis ini merupakan sebuah nasehat agar kita menjauhi api neraka serta memelihara anggota tubuh dar kobaran api neraka. Namun ternyata didalamnya termuat ilmu yang besar manfaatnya yaitu salah satu ciri utama mukjizat keilmiahan Al-Qur’an dan Suah. Meskipun ditunjang dengan kemajuan fasilitas diagnosis dan pemotretan laser sampai tahun 1996 ilmu modern masih menetapkan bahwa jumlah persendian manusia adalah 340 ditambah beberapa persendian yang menyatu menjadi suatu susunan. Beberapa ilmuwan anatomi kembali melakukan penelitian terhadap persendian yang menyatu menjadi satu susunan tersebut lalu memisah-misahkannya. Akhirnya mereka menemukan bahwa jumlah seluruh persendian tersebut adalah 360, bilangan yang tidak kurang dan tidak lebih sesuai dengan yang tercantum dalam hadis Rasulullah SAW. Subhanallah....Beliau adalah sosok Nabi yang tidak pandai membaca. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam firmannya di surat Al-Ankabut ayat 48 ” Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur’an) sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)” Kenyataan ini seyogyanya semakin menambah keimanan kita tentang kebenaran ajaran Rasulullah SAW. Manalah mungkin seorang yang tidak mengerti struktur tubuh manusia bisa menyatakan secara tegas tentang hal tersebut, bila tanpa petunjuk Allah SWT.
Ilmu kedokteran yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu
1. Penyembuhan berbagai penyakit jasmani melalui penggunaan beberapa jenis rerumputan, tumbuhan, madu dan susu.
2. Pengobatan berbagai penyakit rohani melalui pendekatan kejiwaan
3. Pengobatan dengan cara pencegahan
4. Ilmu-ilmu yang terkait dengan kedokteran terutama Anatomi-embriologi.

Semasa Rasulullah upaya penyembuhan berbagai penyakit jasmani dilakukan dengan menggunakan beberapa jenis rerumputan. Disamping itu Rasulullah SAW juga menggunakan madu, berbekam dan penyetrikaan untuk mengobati penyakit. Sabda Rasulullah SAW : ” Pengobatan itu terdapat pada tiga hal : minum madu, berbekam dan membakar dengan api. Dan saya melarang umatku melakukan pembakaran dengan api (HR. Bukhari). Dilain hadis Rasulullah SAW berkata ” Gunakanlah selalu dua macam obat, yaitu madu dan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman ” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia (An-Nahl 69).
Untuk mengobati penyakit rohani dan kegelisahan hati Islam mengajarkan beberapa
cara yaitu :
1. Membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an disebut sebagai terapi pertama, sebab didalamnya memuat resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan hati manusia. Allah SWT berfirman ” Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim” (QS Al-Isro: 82)
2. Berzikir
Dzikir adalah bentuk ekspresi keagamaan yang tidak hanya memiliki dimensi ibadah antara manusia dengan Allah, tetapi juga mengandung unsur-unsur terapi terhadap penyakit. Manfaat ini tidak hanya dibenarkan oleh para agawan (ulama) yang selama ini menjadi penyambung lidah para nabi tetapi juga diyakini kebenarannya oleh para ilmuwan barat dan pakar kontemporer.
3. Berdoa
Doa adalah bentuk pengharapan (isti’anah) manusia kepada realitas di luar dirinya (Allah), sebagai ungkapan ketidak berdayaan dalam menghadapi sesuatu. Ini adalah suatu yang dianjurkan oleh Allah SWT dan Allah akan mengabulkan setiap doa yang datang kepada-Nya sebagai representasi dari sifatnya yang Maha Mengabulkan (Al-Mujib). Tidak dapat disangkal lagi pengaruh doa dalam upaya penyembuhan penyakit sangatlah efektif karena di dalam doa sendiri terkandung unsur terapeutik. Dr. Dale A. Matthew (1996) dari Universitas Georgetown, Amerika Serikat mengatakan dalam pertemuan tahunan The American Psychiatric Association bahwa dari 212 studi yang dilakukan oleh para ahli, ternyata 75% menyatakan bahwa komitmen agama (doa) menunjukkan pengaruh positif pada pasien.
4. Sholat
Sholat yang dimaksud disini bukan sholat melainkan sholat sunnah seprti sholat tahajud, witir dan hajat. Sholat malam merupakan salah satu obat mujarab yang mampu menyembuhkan penyakit hati. Firman Allah SWT “ dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (QS. Al-Isro 79).
Menjaga kesehatan dan kebersihan pribadi merupakan dasar dari tindakan pencegahan terhadap penyakit. Terjaganya kebersihan dan kesehatan individu akan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Kesehatan dan kebersihan pribadi tidak pernah mendapatkan perhatian yang lebih kecuali yang diperbuat oleh Rasulullah SAW. Rasulullah bukan hanya mengajak umatnya untuk selalu menjaga kebersihan tetapi juga telah mempraktekkan secara langsung. Rasulullah SAW bersabda bahwa ”Kebersihan adalah sebagian dari Iman”
Beberapa contoh ajaran Islam yang berperan dalam upaya menjaga kebersihan pribadi (higiene) dan kesehatan lingkungan adalah
1. Berwudhu
Islam telah menyuruh kepada umatnya untuk berwudhu setidaknya 5 kali dalam sehari semalam. Nabi bersabda ”Wudhu adalah sebagian dari iman” (HR. Turmudzi). Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda “Apabila seorang atau mukmin berwudhu, kemudian ia membasuh wajahnya, niscaya keluar dari wajahnya semua kesalahan yang ia lihat dengan matanya bersama air atau bersama tetesanair terakhir atau yang semisal. Jika ia membasuh kedua tangannya niscaya keluar semua dosa yang diperbuat dengan kedua tangannya bersama air atau bersama tetesan air terakhir sehingga ia selesai berwudhu dalam keadaan bersih dari dosa (HR. Ahmad). Jika seorang muslim senantiasa berwudhu, maka ia akan selalu berada dalam keadaan suci yang sempurna dan derajat kebersihan yang paling tinggi. Dr. Musthafa Syahatah, Dekan Fakultas THT Universitas Alexandria mengatakan bahwa berwudhu dapat melindungi seseorang dari kuman-kuman penyakit. Terbukti jumlah kuman pada orang yang berwudhu lebih sedikit daripada orang yang tidak berwudhu.
2. Bersiwak
Sebelum berwudhu disunahkan untuk bersiwak, sebagaimana sabda Rasulullah: Setiap kali bangun tidur, baik siang atau malam, Rasulullah SAW pasti bersiwak dulu sebelum wudhu” (HR. Abu Daud). Bersiwak merupakan tindakan penting dalam pencegahan penyakit yang menyerang mulut dan menjaga kesehatan gigi.
Dr. Faruq Mursyid dosen dan Kepala Bagian Penyakit Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Howard, Amerika Serikat mengingatkan bahwa menyikat gigi adalah satu-satunya cara untuk mencegah karies gigi.
3. Tindakan menjaga kebersihan tubuh lainnya seperti istinsyaq (memmenghirup air
kedalam hidung), memotong kuku, mencuci ruas jari dan sela-selanya, khitan,
mencukur bulu kemaluan, instinja dan berkumur.
Diriwayatkan dari Siti Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda “ Ada sepuiluh macam
sunah fitrah: memendekkan kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, istinsyaq,
memotong kuku, mencuci ruas jari dan sela-selanya mencabut bulu ketiak, mencukur
bulu kemaluan, istinja dan berkumur” ( HR. Turmudzi dan Nasa’i).
Dalam riwayat lainnya : Sunah fitrah ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan,
mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memendekkan kumis” (HR Bukhari,
Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dan Imam Malik).
Nabi SAW bersabda “Apabila kamu buang air kecil, maka jangan memegang
kemaluan dengan tangan kanannya dan jangan beristinja dengan tangan kanan” (HR.
Bukhari).
4. Menjaga kebersihan peralatan keseharian
Ilmu kedokteran modern menegaskan pentingnya kebersihan peralatan yang digunakan untuk makan, minum dan peralatn pribadi. Peralatan yang tercemar akan memberikan kesempatan yang besar bagi kuman-kuman untuk berkembang biak dan menularkan penyakit dari orang yang sakit kepada orang yang sehat. Konsep tentang hal ini sudah ada di dalam ajaran Islam jauh sebelum Ilmu kedokteran modern menegaskan tentang hal ini.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW melarang minum dari semua bejana kecuali yang tertutup rapat (HR. Imam Ahmad).
Dilain hadis Rasulullah SAW melarang minum langsung dari botol, tetapi harus menuang minuman ke dalam gelas yang khusus untuk minum. Abu Sa’id Al Khudri berkata “ Rasulullah SAW melarang memecah mulut kendi dan semacamnyauntuk minum daripadanya” (HR. Bukhari).
5. Menjaga sumber-sumber air
Air adalah asal kehidupan dan menjaga sumber-sumbernya adalah kewajiban karena
air yang tercemar dapat menyebabkan tersebarnya berbagai macam penyakit.
Ibnu Abbas berkata “Aku mendeng Rasulullah SAW bersabda “ Jauhilah tiga hal terkutuk.” Ada yang bertanya “ Apa saja yang terkutuk itu ya Rasullah SAW ? “ Beliau menjawab “ duduk di tempat berteduhnya orang-orang yang dalam perjalanan, duduk-duduk di jalan, serta buang air kecil dan besar di air yang tidak mengalir “ (HR. Imam Ahmad).
Di lain hadis Rasulullah SAW bersabda “ Jangan sekali-kali kalian kencing di kolam yang airnya tidak mengalir, setelah itu kalian mandi dan wudhu di sana” (HR. Nasai’)
6. Menjaga Kebersihan Tempat-tempat Umum dan Tempat Ibadah
Jika tempat-tempat tersebut tidak bersih akan menjadi sumber penyakit yang berbahaya karena banyak dikunjungi orang secara silih berganti. Di anatara mereka ada beberapa orang yang membawa mikroba, bakteri atau jamur. Oleh karena itu penting untuk menjaga tempat-tempat terebut sama pentingnya dengan kebersihan rumah dan badan.
Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa seorang badui masuk masjid kemudian kencing disana, lalu orang-orang menangkapnya. Nabi SAW bersabda ” lepaskan dia dan siram kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk berlaku lemah lembut, bukan diutus untuk berlaku kasar” (HR. Bukhari).
Nabi Muhammad SAW bersabda ” Barangsiapa menebang pohon sidrah, maka Allah akan memasukkan kepalanya ke dalam neraka” (HR. Abu Daud dan Baihaqi).
Sidrah adalah sejenis tumbuhan berduri yang tumbuh di padang pasir, tahan terhadap kekeringan, dan berdahan cukup lebat, sehingga dapat digunakan untuk bernaung. Ketika Imam Abu daud ditanya tentang makna hadis ini, ia berkata dalam sunannya ”Barangsiapa memotong pohon sidrah di padang pasir yang menjadi tempat bernaung orang-orang dalam perjalanan dan binatang tanpa sebab yang jelas, maka Allah akan memasukkan kepalanya ke dalam neraka”
Jelaslah bahwa Nabi Muhammad SAW telah mendahului abad modern dan Green Peace serta pecinta lingkungan dalam menjaga lingkungan dan melarang memotong pepohonan hijau agar lingkungan menjadi bersih, sehat, segar dan indah.
7. Pencegahan penyakit menular
Sunah Nabawiyah telah menetapkan kaidah-kaidah untuk menjaga kesehatan dan memerintahkan agar orang-orang yang sehat tidak mendekati orang yang berpenyakit menular.
Nabi Muhammad SAW bersabda ” Unta-unta yang sakit jangan di campur dengan yang sehat” (HR Abu Daud) dan ” Larilah ari penyakit lepra sebagaimana kamu lari dari harimau” (HR Bukhari Muslim). Dilain Hadis Rasulullah SAW bersabda ” Apabila kamu mendengar ada wabah disuatu negeri maka kamu jangan pergi kesana dan jika ada wabah menimpa suatu negeri dan kamu berada didalamnya maka kamu jangan keluar menghindarinya (HR. Muslim). Dari Hadis ini dapat diambil simpulan sebagi berikut
1. Rasulullah SAW sangat menaruh perhatian agar wabah penyakit tidak menular
2. Rasulullah SAW telah menemukan sistem karantina melaksanakannya dan
memerintahkannya.
8. Melakukan Olahraga
Islam merupakan agama yang konsen terhadap olahraga. Islam menganjurkan agar umatnya menjadi umat yang kuat dan berolahraga. Rasulullah SAW bersabda ” Bidiklah wahai Bani Ismail karena sesungguhnya nenek moyang kalian adalah pemanah” (HR Bukhari). Dilain Hadis Rasulullah SAW bersabda ” Segala sesuatu selain Zikir kepada Allah adalah sia-sia kecyali empat perkara berjalannya seseorang antara dua tujuan, melatih kudanya, mencumbu isterinya dan beajar berenang” (HR. Bazzar dan Thabrani)
Disamping upaya pengobatan penyakit jasmani dan penyakit rohani serta pencegahan penyakit dalam Alqur’an banyak sekali ayat-ayat yang mengandung ilmu pengetahuan yang merupakan bagian dari ilmu kedokteran terutama anatomi-embriologi yang kandungannya baru bisa diungkap dengan bukti empiris jauh setelah zaman Rasulullah. Disamping itu banyak pula hadis yang menyiratkan ilmu-ilmu kedokteran yang tidak bisa dibuktikan secara empiris saat saat itu karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki. Salah satu contoh tentang ilmu kedokteran yang terkandung dalam Al-Qur’an seperti apa yang dipahami oleh salah seorang dokter terhadap firman Allah SWT dalam surat An-Nisa 56 : ”Setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab” (An-Nisaa ayat 56).
Dibalik ayat ini terdapat realitas ilmiah yang belum dikenal oleh manusia pada waktgu turunnya Al-Qur’an sehingga Al-Qur’an tidak boleh tidak harus merupakan Kalam Yang Maha Alim lagi Maha Mengetahui tentang jaringan-jaringan urat saraf yang rumit, yang ujung-ujungnya teratur di dalam lapisan-lapisan kulit. Dan urat saraf inilah yang menyerap rasa panas dan dingin, atau rasa sakit dan nikmat.
Dokter tersebut memahami ayat itu bahwa pembaharuan sakit yang terputus karena terbakarnya nulit tidak bisa terjadi kec uali dengan mengembalikan kulit itu pada waktu masih hidup, agar rasa sakitnya itu bisa terjadi berulang kali ketika kulit berganti pada setiap kali setelah terbakar. Firman ini diturunkan pada beberapa abad silam kepada seorang Nabi yang tidak mempelajari ilmu kedokteran, sehingga ia menyakini bahwa ini adalah kalam yang mengutus Muhammad sebagai seorang Nabi. Dokter inipun mengimani dan akhirnya ia masuk Islam.
Rasulullah SAW menitik beratkan filsafat kedokteran dalam beberapa hal
1. Membersihkan kedokteran dari unsur-unsur khurafat dan sihir. Rasulullah SAW telah
memerani unsur-unsur ini dengan sabdanya ” Barangsiapa yang menggantungkan
jimat, maka dia telah menyekutukan Allah. Jampi-jampi (pelet), jimat, dan guna-guna
merupakan unsur-unsur syirik.
2. Rasulullah merumuskan dasar-dasar pengobatan preventif, kebersihan lingkungan dan
berusaha merealisasikannya sampai kepada derajat mewajibkannya.
3. Segera memberikan pengobatan pada saat dibutuhkan. Beliau mendorong umat Islam
agar melakukan pengobatan ketika sakit. Rasulullah SAW sendiri yang menggunakan
besi panas terhadap Sa’ad bin Mu’adz dan beliau menasehatkan kepada Sa’ad bin Abi
Waqash agar segera pergi ke dokter bangsa arab ternama yaitu Haris bin Kaldah.
Rasulullah pernah ditanya seorang Arab Badui, ia berkata : ” Tidakkah kami (boleh)
melakukan pengobatan ? Jawab Rasulullah : Ya, wahai hamba Allah, berobatlah!
Karena Allah tidak menciptakan penyakit kecuali Dia telah menciptakan obatnya.
Kecuali satu macam penyakit. Lalu ia berkata penyakit apa ya Rasulullah ?”
Rasulullah berkata : menjadi tua (HR. At-Tirmidzi).
Islam sebagai agama samawi mengakui otoritas ilmu pengobatan dan kedokteran maka selain menganjurkan pengobatan dengan menggunakan pendekatan doa , Islam juga menganjurkan pemeluknya untuk melakukan upaya ikhtiar kepada para ahli terutama kepada thobib (dokter) dalam pengobatan dan kesehatan pasien, sebagaimana dinyatakan dalam hadis di atas.
Berkata Imam Syafii : ” Setelah Ilmu tentang membedakan sesuatu yang halal dan yang haram saya tidak mengetahui ilmu yang lebih mulia, ketimbang ilmu pengobatan. Namun sayangnya mereka telah mengabaikannya dan membiarkan pengetahuan ini jatuh ke tangan kaum Yahudi dan Nasrani.
Rasul mengajak dan menyuruh kita kepada sesuatu yang menjadikan kebaikan untuk kita dan membahagiakan kita, serta menjauhkan kita dari derita kesakitan di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu sudah semestinya kita tunduk dan patuh kepadanya, sebagaimana firman Allah ” Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarang maka tinggalkanlah (QS Al-Hasr : 7).
Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang mengajak kita untuk berpikir tentang penciptaan alam alam ini dan hal-hal yang terjadi karena dibalik itu tersimpan rahasia dan tanda-tanda bagi orang yang mau berpikir. Disamping itu Rasul juga mengajak kita untuk selalu menuntut ilmu walaupun hingga ke negeri Cina. Allah memuliakan orang-orang yang berilmu beberapa derajat lebih tinggi. Allah SWT juga mengajak kita untuk berlomba-lomba dan bertolong-tolongan dalam kebaikan. Hal-hal inilah yang memompa semangat para Ilmuwan Muslim yang hidup setelah zaman Rasulullah untuk mau belajar, merenung dan bekerja serta meneliti rahasia-rahasia yang ada dibalik fenomena alam dan kandungan ilmu pengetahuan baik yang tersirat maupun tersurat dalam Al-Qur’an maupun Hadis Nabi. Hal inilah yang mendorong kaum dan ilmuwan muslimin mencapai puncak kejayaan di abad pertengah sepeninggal Rasulluah yaitu pada masa kekhalifahan Abbasiyah di belahan dunia timur dan kekhalifahan Umayah dibelahan dunia barat.

III. Perkembangan Ilmu Pengobatan&Kedokteran Setelah Zaman Rasulullah SAW

Sebelum kedatangan ilmu kedokteran dan pengobatan muslim, tidak ada ilmu kedokteran dan pengobatan yang bernilai yang dipraktikkan di Eropah. Adalah diakui oleh semua ahli sejarah moden bahwa perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan Barat dipengaruhi oleh ilmu kedokteran dan pengobatan muslim. Di Eropah pada abad ke-14 hingga ke-17 Masehi ilmu kedokteran dan pengobatan muslim telah dikaji dengan bersungguh-sungguh oleh penuntut-penuntut di Eropah dan baru dalam abad ke-19 Masihi Ilmu Kedokteran dan Pengobatan Muslim dihapuskan dari kurikulum institusi pelajaran di sekolah dunia barat.
Ahli kedokteran Muslim yang pertama adalah salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w. yaitu Harids ibn-Kaladah. Namun meski ada kontak yang demikian awal antara Islam dengan ilmu kedokteran, umat Arab Muslim pada awalnya tidak menekuni bidang ilmu ini dan hampir semua tabib awal adalah dari umat Kristiani, Yahudi atau Parsi. Baru setelah penerapan bahasa Arab sebagai bahasa utama ilmu kedokteran serta penetrasi ilmu ini berikut pengetahuannya ke dalam jaringan kehidupan sehari-hari maka umat Arab Muslim secara berangsur tertarik kepada subyek ini.
Pada awalnya yang menjadi sasaran utama dari para cendekiawan Muslim adalah ibukota Baghdad. Pada saat itu yang memerintah adalah Khalifah Ma’mun yang berkuasa dari tahun 813 – 833 dan ia menciptakan lembaga “Balai Kearifan” (House of Wisdom) yaitu suatu sentra pendidikan terkenal yang lengkap dengan perpustakaan, biro penterjemah dan sebuah sekolah. Dalam jangka waktu tujuh puluh lima tahun sejak didirikannya lembaga tersebut, banyak sekali karya Yunani dan bangsa lainnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Terjemahan tersebut mencakup kitab-kitab utama filsafat dari Aristoteles, beberapa karya Plato, hasil telaah Euclid, Ptolemius, Archimedes serta ahli ketabiban Yunani yang kondang yaitu Hipokrates, Dioscorides dan Galen, disamping juga banyak karya ilmiah Parsi dan India.
Salah seorang ilmuwan terkemuka dari Balai Kearifan tersebut adalah Hunayn ibn-Ishaq. Hunayn belajar ilmu kedokteran di Baghdad di bawah bimbingan seorang tabib yang memperoleh pendidikannya di sekolah kedokteran Parsi termashur di Jundishapur. Ia kemudian memiliki pengaruh besar pada perkembangan ilmu kedokteran Islamiah. Di kemudian hari Hunayn ditunjuk oleh Khalifah sebagai rector dari Balai Kearifan dimana ia menangani penyeliaan semua karya penterjemahan. Disamping itu Hunayn menghasilkan banyak karya ilmu kedokteran, di antaranya adalah textbook paling awal tentang kedokteran mata (ophtalmology). Hunayn bersama para koleganya berhasil menyelesaikan kompilasi akbar dan penterjemahan ilmu pengetahuan, yang kemudian menjadi kerangka kerja dari pengetahuan modern, khususnya di bidang kedokteran, ketika hasil kinerja mereka ini kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin dan masuk ke dunia Barat melalui Sisilia dan Spanyol.
Salah seorang yang paling kondang dari para tabib Timur ini adalah al-Razi yang hidup 865 – 925 M. Ia adalah dokter terbaik di zamannya dimana ia disejajarkan dengan Hipokrates dalam orisinalitas deskripsi suatu penyakit. Razi (dalam bahasa Latin – Rhazes) dikatakan telah menulis lebih dari dua ratus kitab dengan subyek menyangkut dari kedokteran sampai kimia, theologi dan astronomi. Sekitar separuh dari kitab-kitab itu berkenaan dengan kedokteran, termasuk di antaranya yang terkenal tentang penanganan penyakit cacar. Dalam telaahnya tentang penyakit cacar itu, adalah Razi yang menjadi orang pertama yang membedakannya sebagai suatu penyakit khusus dari antara demikian banyak demam eruptif yang menjangkiti manusia. Dengan memberikan simptomatis klinikal dari penyakit cacar, ia membekali para tabib dengan pengetahuan untuk mendiagnosanya secara tepat dan memprediksi perjalanan penyakit. Ia juga memberikan saran pengobatan atas penyakit tersebut. Ia menekankan pengobatan dengan cara yang halus, diet makanan yang baik, perawatan yang teliti yang sepertinya sama seperti yang diterapkan di masa kini yaitu istirahat, lingkungan bersih dan menjaga pasien tetap nyaman. Meski Razi tidak tahu apa-apa tentang bakteria (yang baru ditemukan di awal abad ke 17), ia memiliki naluri intuitif mengenai prinsip-prinsip higiene, jauh melampaui standar abad pertengahan . Suatu ketika ia pernah ditanya tentang pemilihan lokasi dari suatu rumah sakit baru di Baghdad. Untuk menelitinya ia lalu menggantungkan irisan-irisan daging di beberapa tempat di kota tersebut. Ia menyarankan pendirian rumah sakit di lokasi yang gantungan dagingnya paling lambat membusuk.
Abad 10 dan 11 merupakan periode dari ahli-ahli medikal dengan peringkat tertinggi. Al-Majusi mendominasi bidang medical internal di Timur, sementara di belahan barat di kekhalifahan Umayyah di Andalusia muncul salah seorang sosok medical akbar yaitu Al-Fahrawi. Ia adalah salah seorang ahli bedah Muslim terbesar dan buku karangannya Kitabul Tarif yang merupakan ensiklopedia kedokteran merupakan pedoman definitive bagi para ahli bedah selama berabad-abad. Periode in i juga merupakan masa berkembangnya karya-karya akbar di bidang ophtalmologi (mata). Ali ibn Isa adalah orang pertama yang mengusulkan penggunaan bius (anastesia) dalam pembedahan.
Sosok yang paling mencolok dan merupakan dokter Muslim yang paling terkenal adalah
Ibnu Sina yang memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hussein Ibn Abdallah, lahir di Afshana dekat Bukhara (Asia Tengah) pada tahun 981. Pada usia sepuluh tahun, dia telah menguasai dengan baik studi tentang Al Quran dan ilmu-ilmu clasar. Ilmu logika, dipelajarinya dari Abu Abdallah Natili, seorang filsuf besar pada masa itu. Filsafatnya meliputi buku-buku Islam dan Yunani yang sangat beragam. Kemampuannya dalam bidang pengobatan sudah begitu mumpuni di usianya yang masih belia. Bahkan ketika usianya baru tujuhbelas tahun, dia sudah berhasil menyembuhkan penguasa Bukhara, Nun Ibn Manshur. Padahal sebelumnya para pakar kesehatan kerajaan sudah menyerah, tak satu pun yang mampu mengatasi penyakit sang raja. Atas jasanya itu, Manshur bermaksud memberinya hadiah. Namun Ibnu Sina justru lebih memilih izin dari sang raja untuk diperkenankan meggunakan perpustakaan kerajaan yang dikenal memiliki koleksi buku-buku yang unik. Setelah ayahnya meninggal, Ibnu Sina merantau ke Jurjan, dan bertemu dengan Abu Raihan al-Biruni, yang kala itu sangat termashur. Setelah itu dia pindah ke Rayy, dan melanjutkan perjalanan ke Hamadan, tempat yang memberinya inspirasi untuk bukunya yang terkenal, Al Qanun 11 al-Tibb.
Sampai kini ilmunya yang ditulis dalam buku "Al Qanun Fi al-Tib" tetap menjadi dasar bagi perkembangan ilmu kedokteran dan pengobatan dunia. Karena itu Ibnu Sina menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu kedokteran dunia. Bukunya "Al Qanun" "diterjemahkan" menjadi "The Cannon" oleh pihak Barat, yang kemudian menjadi rujukan banyak ilmuwan abad pertengahan. Buku itu diantaranya berisi eksiklopedia dengan jumlah jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan. Bahkan diperkenalkan penyembuhan secara sistematis dan dijadikan rujukan selama tujuh abad kemudian (sampai abad ke-17). Kitab ini menjadi karya paling berpengaruh dalam sejarah kedokteran dunia, bahkan termasuk karya Hipokrates dan Galen . Ensiklopedia itu terdiri atas lima buku yang berisi:
• prinsip-prinsip dasar pengobatan.
• obat-obat sederhana.
• kekacauan organ internal dan eksternal tubuh.
• penyakit yang mempengaruhi tubuh secara umum.
• komposisi obat-obatan.
Dari abad 12 sampai ke 17, kitab Kanun tersebut menjadi pegangan utama di fakultas kedokteran dari berbagai universitas Eropah. Ibnu Sina diakui sebagai yang pertama mengenali sifat menular dari penyakit paru-paru (tuberkulosa) serta mendeskripsikan beberapa penyakit kulit dan gangguan kejiwaan. Para ahli sejarah Barat menganggap Ibnu Sina sebagai pemikir akbar yang telah membawa warisan Yunani ke Barat.
Ibnu Sina meninggal pada tahun 1073, saat kembali di kota yang disukainya, Hamadan. Walau ia sudah meninggal, namun berbagai ilmunya sangat berguna dan digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang kini diderita umat manusia. Potret Ibnu Sina, hingga kini menjadi salah satu pajangan dinding besar gedung Fakultas Kedokteran Universitas Paris.
Setelah masa Ibnu Sina, kedokteran Islam secara gradual berkembang secara regional walau masih mempertahankan kesatuan dasar. Di Irak, Syria dan negeri-negeri berdekatan, kota-kota besar seperti Kairo dan Damaskus menjadi sentra daya tarik berbagai dokter dengan dibangunnya rumah-rumah sakit baru di abad 12. Ibnu Nafis, seorang filosof, theolog dan dokter, disebut sebagai Ibnu Sina kedua, dimana ia bekerja di Kairo dan Damaskus. Ibnu Naf i s telah menjelaskan dengan tepat sirkulasi peredaran darah dalam tubuh. Hal ini merupakan temuan terpenting dalam sejarah kedokteran yang menjadikan nama Ibnu Nafis sebagai penggagas awal sebelum William Harvey (bukan Columbo atau Servitus) sebagai penemu sirkulasi darah minor.
Di negeri Maghribi, antara abad 11 dan 12 terdapat sosok Ibnu Zuhr (di Barat – Avenzoar) yang menyusun Kitab Tentang Telaah Terapi dan Diet (Taysir fi al-mudawat wa al-tadbir), yang kemudian menjadi salah satu karya akbar dari kedokteran Islam di Andalusia. Ibn Zuhr dilahirkan di Sevilla, Spanyol, pada 1091 dari keluarga para dokter. Pengetahuan tentang pengobatan selain dari kalangan keluarganya ia peroleh dari Cordoba Medical University. Setelah menyelesaikan studinya di universitas tersebut ia menetap untuk beberapa lama di Baghdad, Irak dan Kairo, Mesir. Menurut sejumlah sejarawan sains, Ibn Zuhr merupakan saintis yang berbeda dibandingkan saintis Muslim pada umumnya. Sebab biasanya saintis Muslim menguasai sejumlah bidang pengatahuan namun ia hanya memfokuskan diri pada bidang pengobatan. Tak heran jika pada masanya ia banyak membuat berbagai penemuan dan terobosan di bidang pengobatan. Misalnya, ia adalah orang pertama yang mengujikan obat-obatan pada binatang sebelum obat tersebut digunakan secara umum oleh manusia. Dia pula yang menjadi pelopor dalam melakukan pembahasan secara detail mengenai penyakit gatal-gatal oleh karenanya di kemudian hari ia disebut sebagai Bapak Parasitologi. Prestasinya terus melaju. Ia kemudian dinobatkan sebagai orang yang pertama kali memberikan pemaparan secara lengkap tentang operasi tracheotomy dan mempraktikkan direct feeding atau pemberian makan secara langsung melalui gullet di mana seorang pasien tak mampu menyalurkan makanan yang ia konsumsi melalui tenggorokannya. Sejumlah penemuan dan terobosannya ini memang dihasilkan dari keuletannya melakukan eksperimen. Seperti yang dilakukan ilmuwan lainnya, ia pun menuliskan semua pemikirannya ke dalam sebuah buku. Sayangnya, dari banyak buku yang ia tulis hanya tiga buku saja yang masih ada. Buku-bukunya itu yang pada masa selanjutnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin menjadi rujukan dokter-dokter di Timur maupun Barat hingga akhir abad kedelapanbelas.Salah satu bukunya, berjudul al-Taisir fi al-Mudawat wa al-Tadbir. Buku yang membahas tentang therapeutik dan diet ini ditulis atas permintaan Ibn Rush. Buku ini merupakan salah satu karya yang penting dalam dunia pengobatan dan memberikan pengaruh besar bagi perkembangan dunia pengobatan di kemudian hari, tak hanya di Timur tetapi juga di Barat. Terbukti salinan karya ini selalu terdapat di setiap perpustakaan dokter-dokter Nasrani sebagai rujukan. Ada beberapa salinan manuskrip dari buku ini, salah satunya ditemukan di Bibliotheque Nationale de Paris. Salinan ini diselesaikan di Barcelona pada 1165. Sedangkan salinan lainnya ditemukan di Bodleian Library of Oxford, namun tak diketahui angka tahun kapan salinan tersebut diselesaikan. Sedangkan salinan manuskrip berada di Biblioteca Medicea-Laurenziana, Florens, Italia. Dan salinan terakhir yang sebelumnya berada di al-Maktabe al-Abdaliya di Tunisia, hilang dan hingga kini belum diketahui jejaknya. Buku keduanya berjudul al-Iqtisad fi Islah al-Anfus wa al-Ajsad. Dalam karyanya itu ia membahas tentang hubungan jiwa dan tubuh. Ini merupakan sebuah pembahasan awal yang melibatkan psikologi di dalam ilmu kedokteran. Di dalamnya juga membahas mengenai beragam penyakit, therapeutik dan higienitas. Buku tersebut ditulis dengan format yang mudah dicerna karena Ibn Zuhr lebih memperuntukkan buku tersebut bagi masyarakat awam. Dan buku terakhir yang masih tersisa berjudul al-Aghziya yang berisi bahasan tentang obat-obatan dan pentingnya makanan yang sehat dan nutrisi bagi tubuh.Setelah Ibn Zuhr kembali dari perantauan ke tanah kelahirannya, ia menghabiskan waktunya hanya di tanah kelahirannya. Ia menjalani profesinya sebagai dokter, melakukan eksperimen dan juga menuliskan buku-buku kedokteran hingga ia menjadi dokter terkenal di seantero dunia. Ia meninggal dunia di Sevilla pada 1161.
Karya Abu Marwan Abdul al-Malik Ibn Zuhr
1.Kitab al-Taysir fil-Mudawa wal-Tadbir.
2.Kitab al-Iqtisad fi Islah al-Anfus wal-Ajsad.
3.Kitab al-Aghdiya wal-Adwiya
4.Kitab al-Sina
5.Kitab al-Jamic fil-Ashriba wal-Maajin.
6.Kitab Mukhtasar Hilat al-bur' li-Jalinus.
7.Risala fi Tafdil al-Asal alal-Sukkar.
8.Kitab al-Tadhkira fil-Dawa' al-Mushil
9.Kitab Maqala fi Ilal al-Kula and Risala fil-Baras.
Seorang dokter Spanyol bernama Ibnu Rushd (Latin – Averroes) menulis tentang kedokteran, filsafat, hukum dan astronomi. Talentanya beraneka sehingga ia tidak saja diangkat sebagai tabib utama tetapi juga hakim di Sevila dan Kordoba. Selain itu Ibnu Rushd adalah juga penterjemah terkemuka dari karyakarya Aristoteles. Dokter Spanyol keturunan Yahudi yang juga mempengaruhi cara berfikir Barat adalah Ibnu Maymum yang menjabat sebagai tabib istana dari Sultan Mesir dan Syria di abad 12. Karyanya di bidang kedokteran mencakup antara lain penafsiran karya-karya Galen dan Hipokrates, disamping karyanya sendiri tentang diet dan kebersihan personal.
Setelah jatuhnya Cordoba dan berakhirnya kekhaifahan Bani Umayah di Barat dan berakhirnya kekhalifahan Bani Abbasiyah di Timur dunia pengobatan dan kedokteran Islam mengalami kemunduran.
PENUTUP
Telah diuraikan tentang sejarah Ilmu Pengobatan dan Kedokteran Islam yang merupakan mata rantai yang sangat penting dalam sejarah ilmu pengobatan dan kedokteran modern. Ilmuwan Muslim sejak zaman Rasulullah hingga akhir abad pertengahan, abad ke 13 telah mencapai kejayaannya dan sangat berperan dalam dunia ilmu pengetahuan khususnys ilmu kedokteran dan pengobatan. Bahkan hingga akhir abad ke 19, ilmu kedokteran dan pengobatan yang berasal dari buku-buku yang dikarang oleh ilmuwan Muslim masih menjadi bagian dari kurikulum pendidikan dokter di Eropa. Semoga tulisan ini dapat membangkitkan kembali semangat kita untuk mengembalikan masa keemasan dan kejayaan ilmuwan Muslim, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an : “Kamu sekalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf , mencegah kemungkaran dan kamu sekalian percaya kepada Allah “ (QS. Ali Imran: 110).


















Curriculum Vitae

1. Nama : dr. Ahmad Aulia Jusuf, PhD
2. Tempat/tgl lahir : Jakarta, 4 Desember 1965
3. Alamat : Mediteranian Regency A188
Jl. Dr. Ratna, Cikunir, Bekasi
HP 08161370998
4. Pendidikan
1. 1972-1977 SD Negeri 0109/Harapan Mulia I
2. 1978-1981 SMP Negeri 77 Jakarta
3. 1981-1984 SMA Negeri 27 Jakarta
4. 1984-1990 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta
5. 1995-2001 International Center for Medical Research (ICMR)
Kobe University Graduate School of Medicine,
Kobe, Jepang
6. 2000 Ahli Histologi Kedokteran

5. Riwayat Pendidikan / Pelatihan / Kursus tambahan
1. 1980-1982 Kursus Bahasa Inggris Intensive English Course Jakarta
2. 1991 Kursus Fotomikrografi, FKUI Jakarta
3. 1992 Kursus Fotomikroskopi, Histotehnik & Elektron Mikroskopi
4. 1992 Penataran Program P2. ISPA, P2. TB. Paru dan P2. Diare
5. 1992 Pelatihan alat kontrasepsi MKET untuk dokter Puskesmas DKI Jaya
6. 1992 Pendidikan dan Pelatihan Kontrasepsi Mantap
7. 1993 Pelatihan Pra-Jabatan Tingkat III
8. 2001 . Short Course Kepemimpinan Eksekutif
9. 2001 Penataran Ancangan Aplikasi (AA)
10. 2004 Pacing change in Medical education : Instructional Science and curriculum
leadership SGH Postgraduate Medical Institute, Singapore
11. 2004 Experiential workshop on problem-base learning SGH Postgraduate
Medical Institute, Singapore

6. Riwayat Pekerjaan
1. 1990 – kini Staf Pengajar bagian Histologi FKUI
2. 1992 – 1995 Kepala Puskesmas Kelurahan Serdang Kemayoran Jakarta
3. 1992 – 1995 Dokter Umum RS Mitra Keluarga Jatinegara Jakarta
4. 2002 – kini Dokter Umum RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta

7. Riwayat Jabatan Struktural
1. 2001- kini Koordinator Penelitian Bagian Histlogi FKUI
2. 2003- kini Sekretaris Senat Akademik FKUI
3. 2004-kini Sekretaris Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional
(P4KN) Dikti
4. 2004-kini Koordinator Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat Bagian Histologi FKUI

8. Keanggotan dalam Organisasi
1. Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
2. Anggota Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (PAAI)


9. Jurnal/Publikasi Ilmiah
1. Ahmad Aulia Jusuf. Transgenic and gene disruption techniques from a concept to
a tool in studying the basic pathogenesis of various human diseases
Medical Journal of Indonesia, Vol 7, No 2, April – June 1998
2. Ahmad Aulia Jusuf. Location and distribution pattern of nitric oxide synthesizing
neuronal cells in the digestive tract and urinary bladder of mice.
Journal article , Med J Indonesia 2000, Vol. 9, No.4: 240-247
3. Ahmad Aulia Jusuf, Satoko Kojima, Masafumi Matsuo, Takeshi Tokuhisa and
Masahiko Hatano. Location and distribution pattern of nitric oxide synthesizing
neuronal cells in the digestive tract and urinary bladder of mice.
Journal article, The Journal of Urology 2001, Vol. 165: 993-998.
4. Ahmad Aulia Jusuf, Rina Susilowati, Hiroyuki Sakagami, Toshio Terashima. Expression
of Ca2+/Calmodulin-dependent protein kinase (CaMK) Ib2 in developing rat CNS
Neuroscience, 2002 Feb 14 Vol. 109 (3): 407-420
5. Rina Susilowati, Ahmad Aulia Jusuf, Hiroyuki Sakagami, Satoshi Kikkawa,
Hisatake Kondo, Yasuhiro Minami, Toshio Terashima. Distribution of Ca2+/calmodulin
dependent protein kinase I beta 2 in the central nervous system of the rat.
Brain Res 2001, 911(1): 1-11
6. Ahmad Aulia Jusuf. Keputihan: Suatu keluhan pasien dalam praktek dokter
sehari-hari Buku Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan PKB Uji Diri, Cetakan
ke 2, Yayasan Penerbitan
IDI, Jakarta, 2001